Senin, 07 November 2011

Pelaku Donor Hati Sering Alami Gangguan Fisik dan Psikologis

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
New York, Menyumbangkan organ tubuh untuk orang lain yang sakit parah adalah perbuatan yang mulia. Namun banyak dari pelaku donor hati mengaku mengalami gangguan fisik dan psikologis usai menyumbangkan organ hatinya. Meski begitu pedonor hati tidak kapok mendonorkan hatinya.

Donor hati dari donor yang masih hidup (alami) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan donor hati dari mayat atau orang yang sudah meninggal, salah satunya adalah pendonoran dapat dilakukan pada waktu yang terbaik bagi sang penerima.

Donor hati dilakukan melalui prosedur pengambilan sebagian hati untuk dicangkokkan kepada yang membutuhkan. Setelah dua bulan, hati donor yang diambil akan tumbuh kembali dengan utuh.

Sayangnya, penelitian menunjukkan bahwa pelaku donor hati sering mengalami gangguan fisik dan psikologis beberapa tahun setelah operasi. Hampir setengah dari 83 donor hati yang disurvei memiliki keluhan mulai dari rasa sakit dan gangguan pencernaan hingga depresi setelah tiga tahun lebih setelah operasi. Meskipun demikian, hampir semuanya mengatakan bahwa mereka masih mau menyumbang lagi.

Rata-rata usia donor dalam penelitian di Jerman ini adalah 36 tahun, dan sudah enam tahun mendonorkan hatinya. Dalam penelitian tersebut, 31 persen pendonor mengeluh mengalami diare atau intoleransi terhadap makanan berlemak.

Sekitar 10 persen mengeluh mengalami gastroesophageal reflux, yaitu asam lambung dari perut yang muncul ke kerongkongan. Sejumlah kecil donor mengalami ketidaknyamanan di bagian sayatan atau di tulang rusuknya.

Tiga donor melaporkan depresi berat, dua di antaranya memerlukan rawat inap, dan satu pasien memiliki gejala mulai munculnya psoriasis yang makin memburuk. Psoriasis adalah penyakit autoimun yang muncul pada kulit. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah merespon sel-sel kulit sebagai patogen dan mengirimkan sinyal yang mempercepat siklus pertumbuhan sel kulit. Psoriasis telah dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke.

Dari 83 donor yang disurvei, 39 orang di antaranya melaporkan tidak ada gejala atau masalah tersisa. Tapi tiga orang pria muda dan sehat mengatakan bahwa mereka ditolak asuransi jiwanya karena hanya tersedia sedikit data mengenai efek jangka panjang dari pendonoran hati yang hidup.

"Beberapa risiko keluhan jangka panjang dapat dikendalikan melalui pemeriksaan, perbaikan teknik bedah, dan tindak lanjut menyeluruh terhadap donor di pusat transplantasi," kata Georgios Sotiropoulos, penulis dan profesor bedah dan transplantasi di Rumah Sakit Universitas Essen di Jerman seperti dikutip Reuters, Senin (7/11/2011).

Ahli bedah transplantasi sebenarnya lebih suka jika tidak menempatkan risiko pada orang yang sehat. Namun tidak ada pilihan lain, sebab tidak tersedia organ hati yang cukup bagi semua orang yang membutuhkan.

"Meskipun penelitian ini tidak memiliki kelompok kontrol, hasil temuannya konsisten dengan penelitian terdahulu. Saya pikir kesimpulannya cukup wajar dan hati-hati, kita perlu tetap memantau orang-orang ini, perlu ada dukungan psikologis sebelum dan setelah prosedur," kata Jean Emond, wakil ketua Departemen Bedah dan direktur pusat transplantasi di New York Presbyterian dan Rumah Sakit Columbia di New York.

Sekitar 4.500 donor hati oleh donor hidup telah dilakukan di Amerika Serikat sejak operasi pertama pada tahun 1989. Pendonoran pertama dilakukan untuk anak-anak yang membutuhkan sepotong kecil hati.

Dalam penelitian yang dilansir Emond dibantu oleh ahli bedah yang menangani operasi pertama donor hati hidup. Menurutnya, resiko kematian setelah menyumbangkan sebagian besar hati adalah sekitar satu dibandingkan 1.000.





(mer/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar