Senin, 07 November 2011

Kapan Pria Perlu Terapi Hormon Testosteron?

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Jakarta, Seperti wanita, pria juga sebenarnya mengalami masa menopause yakni penurunan kadar hormon testosteron yang terus terjadi seiring menuanya usia. Meski sering terjadi perdebatan mengenai manfaat dan risiko terapi testosteron, namun kondisi-kondisi tertentu sudah bisa dilakukan terapi hormon pada pria.

Kadar testosteron total (TT) pada pria mulai menurun pada dekade ketiga kehidupan atau usia 30 tahun ke atas. Penurunan kadar TT tersebut secara bertahap menurun hingga 0,4-2,6 persen per tahun. Pada usia 60 tahun, 20 persen dari populasi pria umumnya telah mengalami defisiensi testosteron.

Namun banyak dokter enggan meresepkan terapi testosteron karena pertimbangan mengenai peningkatan kadar testosteron serum dapat menyebabkan metastatik kanker prostat.

Pada tahun 1942 Huggins dan Hodges menemukan hubungan antara testosteron rendah (<50ng/dl) dan tingkat penurunan metastatik kanker prostat. Sejak penelitian tersebut, dokter enggan mengobati defisiensi testosteron oleh karena dikhawatirkan pengobatan tersebut akan merangsang pertumbuhan/pembelahan sel kanker prostat.

Namun hasil penelitian baru menunjukkan terdapat hubungan positif antara terapi testosteron dan peningkatan risiko untuk mengembangkan kanker prostat, atau kekambuhan kanker prostat.

Bahkan penelitian tersebut telah mengamati laki-laki yang sebelumnya telah dirawat oleh karena kanker prostat baik melalui prostatektomi radikal, brakiterapi atau radiasi dan yang kemudian diberi terapi testosteron untuk mengobati gejala defisiensi testosteron.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa, orang-orang yang menerima terapi testosteron memiliki risiko rendah kanker prostat tanpa bukti metastasis kanker.

Dari 9 penelitian yang pernah dilakukan, 8 penelitian telah dikaji. Dari kedelapan penelitian tersebut tidak menunjukkan kekambuhan yang signifikan dari kanker prostat setelah dilakukan terapi testosteron, meskipun memang memiliki dampak positif pada pengobatan gejala kekurangan androgen.

Gejala-gejala kekurangan testoteron pada pria umumnya meliputi:
1. Hot flashes
2. Kelelahan
3. Peningkatan berat badan
4. Depresi
5. Penurunan memori

Selain itu korelasi positif antara defisiensi testosteron dengan kolesterol tinggi, diabetes, dan osteoporosis telah ditetapkan. Sekali lagi membutuhkan berkonsultasi dengan dokter untuk memberikan pertimbangan risiko dan manfaat terapi testosteron.

Ada beberapa pilihan pengobatan ketika memutuskan untuk melakukan terapi testosteron. Sangat penting untuk mendiskusikan dengan dokter mengenai metode terapi testosteron terbaik yang akan dilakukan.

Seperti dikutip dari FoxNewsHealth, Senin (7/11/2011), terapi testosteron saat ini yang tersedia, antara lain:

1. Gel transdermal/patch yang diberikan dengan dosis 5 mg sehari
2. Suntikan intramuskular dengan dosis 200 mg setiap 2 minggu
3. Pelet subkutan dengan dosis 450-900 mg setiap 3-6 bulan, yaitu pelet yang ditanamkan di bawah kulit yang dapat memberikan pengobatan untuk jangka yang lebih panjang.

Tujuan pengobatan adalah untuk membangun kembali secara alami kadar fisiologis testosteron total dan testosteron bebas. Seiring dengan pemantauan yang cermat kadar testosteron, hormon lain seperti estrogen dan dihidrotestosteron harus dievaluasi untuk memastikan tingkat yang optimal.

Selama ini banyak dokter ragu-ragu untuk meresepkan terapi testosteron, meskipun telah terdapat banyak penelitian baru yang mendukung terapi tersebut. Namun tetap perlu diperhatikan kontraindikasi peresepan terapi testosteron, antara lain:

1. Riwayat metastasis agresif kanker prostat
2. Riwayat kanker payudara
3. Gangguan darah tinggi

Jika ingin melakukan terapi hormon, penting untuk berkonsultasi dengan dokter dan mendiskusikan berbagai pilihan terapi hormon. Jika akhirnya memutuskan untuk menjalani terapi, sebaiknya melakukan pemeriksaan rektal tahunan secara digital, serta melakukan pemeriksaan prostate specific antigen (PSA) untuk memantau perubahan.



(ir/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar