Sabtu, 19 November 2011

Soal Rabies, Ambon Tak Seberuntung Bali

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Ambon, Dibanding Bali, beberapa wilayah di Maluku termasuk Kota Ambon sudah lebih dulu menjadi daerah endemis rabies. Namun dari sisi fasilitas dan sumber daya, Maluku kurang beruntung dibanding Bali sehingga penanganannya lebih lambat.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Bencana Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, dr Ritha Tahitu, MKes mengatakan rabies pertama kali ditemukan di Maluku pada tahun 2003. Bali baru mengalaminya belakangan, sekitar tahun 2008 ketika kasus pertama ditemukan di daerah Badung.

"Tapi di Bali sumber daya berlimpah karena punya Fakultas Kedokteran Hewan. Kita di sini cuma punya 1 dokter hewan saja untuk seluruh Maluku, dan hanya ada di Ambon," kata dr Ritha saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (18/11/2011).

Bukan hanya sumber daya saja yang kurang memadai, sarana dan prasarana pendukung juga sangat terbatas. Menurut dr Ritha, Maluku tidak punya laboratorium sehingga pemeriksaan sampel hewan maupun manusia yang diduga rabies harus dilakukan di Makassar yang punya laboratorium lebih lengkap.

Akibatnya penyebaran virus rabies sering terlambat diantisipasi dan akhirnya menjadikan Provinsi ini sebagai salah satu daerah endemis. Seperti yang terjadi di wilayah Seram Bagian Barat misalnya, status endemis baru ketahuan setelah ada 17 orang yang meninggal karena rabies.

Selain di wilayah Seram Bagian Barat, rabies juga ditemukan di 3 wilayah lain di Maluku yang juga ditetapkan sebagai daerah endemis. Ketiga wilayah itu meliputi Maluku Tengah, Maluku Tenggara Barat dan ibukota Provinsi Maluku sendiri yakni Kota Ambon.

Meski rabies di Maluku telah menjadi endemi sejak 2003, namun upaya penanganan tampaknya tidak seheboh Bali yang memang banyak disorot karena merupakan salah satu tujuan wisata internasional. Padahal dilihat dari jumlah kasus gigitan anjing pada manusia yang hanya 700-800 gigitan/tahun, penanganan rabies di Maluku seharusnya bisa lebih cepat dari Bali yang pernah mencapai 153 kasus gigitan/hari.

"Kendala lainnya tentu saja faktor geografis, karena Maluku ini wilayah kepulauan. Untuk periksa saja, orang ke puskesmas kadang sangat jauh," tambah dr Ritha.


(up/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar