Ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jumlah penyandang diabetes baik di Indonesia maupun di dunia mengalami peningkatan yang pesat. Pada tahun 2030 di Indonesia diperkirakan akan terdapat lebih dari 21 juta penyandang diabetes.
International Diabetes Federation memperkirakan pada tahun 2030 jumlah penyandang diabetes di seluruh dunia hampir mencapai 450 juta. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan dan akan membawa dampak yang tidak sedikit, karena penyakit diabetes merupakan penyakit kronis yang bersifat progresif, yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronis pada berbagai organ vital.
Penyandang diabetes harus waspada terhadap komplikasi kaki diabetik. Betapa tidak, bagi pasien diabetes dengan kadar gula tidak terkendali, masalah kaki ini dapat mengarah pada terjadinya luka yang sulit sembuh, yang kemudian akan mengalami infeksi dengan konsekuensi lebih serius seperti amputasi bahkan kematian.
"Kaki diabetik ini adalah komplikasi yang paling tidak mengenakan baik bagi pasien maupun dokter, karena angka kematiannya tinggi, angka amputasinya tinggi dan perawatannya juga lama dan mahal, mobil mewah saja lewat. Karena itu pencegahannya sangat penting," jelas Prof. Dr. dr. Sarwono Waspadji, Sp.PD,KEMD dari Diabetes & Lipid Center, Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, di acara Media Edukasi 20th Jakarta Diabetes Meeting di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (2/11/2011).
Menurut Prof Sarwono, komplikasi kaki diabetik dapat terjadi karena kendali kadar gula yang tidak dilakukan dengan baik. Faktor utama penyebabnya adalah kerusakan saraf (neuropati diabetik) dan gangguan pembuluh darah.
"Saraf yang sudah rusak mengakibatkan pasien diabetes tidak dapat merasakan sensasi sakit dan panas di kaki, ada juga yang tidak bisa merasakan ada batu atau paku payung di sepatu. Karena tidak merasakan akhirnya luka dan infeksi," lanjut Prof Sarwono.
Neuropati diabetik terjadi pada lebih dari 50 persen pasien diabetes. Gejala yang umum adalah rasa baal (mati rasa) dan kelemahan pada kaki.
"Gangguan aliran pembuluh darah juga merupakan penyebab terjadinya gangguan kaki diabetik. Pembuluh darah di kaki letaknya paling jauh dari jantung sehingga ukuran pembuluh darahnya pun kecil. Aliran darah yang tidak cukup ke kaki akan menyebabkan luka dan infeksi sulit sembuh," jelas Dr Em Yunir, Sp.PD,KEMD, Staf Divisi Metabolik Endrokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Kaki diabetik merupakan komplikasi kronik diabetes yang paling ditakuti karena risiko terjadinya amputasi yang cukup tinggi serta mengancam nyawa.
"Sekitar 50 persen pasien kaki diabetik akan meninggal. Bahkan dalam 30 detik ada pasien diabetes yang diamputasi," jelas Dr Yunir.
Pemeriksaan kaki diabetik harus dilakukan secara menyeluruh, baik sebelum munculnya luka atau saat telah terjadi luka.
Selain itu juga sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kaki secara teratur setiap hari, mendeteksi jika terdapat luka atau sesuatu yang mencurigakan untuk dapat dilakukan pencegahan terhadap munculnya luka. Dengan melakukan usaha-usaha ini maka risiko terjadinya amputasi dapat diturunkan hingga 85 persen.
(mer/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar