(Foto: thinkstock)
Sebuah studi baru menemukan bahwa mengenakan sarung tangan lateks membuat petugas kesehatan jadi jarang membersihkan tangannya sebelum dan setelah merawat pasien. Bakteri ternyata dapat melakukan perjalanan melalui sarung tangan lateks. Karena sarung tangan sering dipakai bila dokter bekerja maka cairan tubuh pasien dengan penyakit menular kadang menempel di tangan.
"Akibat melepas sarung tangan lateks juga dapat menyebabkan back spray effect, di mana cairan tubuh dari pasien yang mengandung bakteri dan virus terpapar ke tangan pemakainya," kata peneliti seperti dilansir dari TheNewYorkTimes, Rabu (9/11/2011).
Akibatnya, dokter dan perawat yang tidak mencuci tangan setelah menggunakan sarung tangan lateks dapat menyebarkan infeksi melalui tangan yang terkontaminasi, kata Dr. Sheldon Stone, seorang dosen senior dari department of medicine di Royal Free Campus of University College London Medical School.
"Selama ini kita berasumsi bahwa, jika seorang petugas kesehatan telah mengenakan sarung tangan berarti kita terlindung dari infeksi. Namun, pada kenyataannya tangan tangan petugas kesehatan dapat sangat kotor," kata Dr Stone.
Penelitian tersebut merupakan penelitian besar yang mengamati penggunaan sarung tangan di rumah sakit dan dampaknya terhadap kebersihan tangan. Para peneliti mengamati lebih dari 7.000 interaksi dokter dan pasien di 56 bangsal di 15 rumah sakit di Inggris dan Wales. Hasil penelitian tersebut akan dipublikasikan dalam Journal Infection Control and Hospital Epidemiology edisi Desember.
Para peneliti menemukan tingkat mencuci tangan secara keseluruhan hanya 47,7 persen terlepas apakah dengan menggunakan sarung tangan atau tidak. Hal tersebut sama dengan tingkat kepatuhan untuk kebersihan tangan di rumah sakit Amerika yang rata-rata sekitar 40 persen.
Tetapi studi terbaru menemukan ketika petugas kesehatan menggunakan sarung tangan, maka kegiatan mencuci tangan di 15 rumah sakit yang dilibatkan untuk penelitian mengalami penurunan menjadi sekitar 41 persen.
"Sarung tangan sering digunakan ketika kontak dengan cairan tubuh atau pasien yang paling infektif, seperti pasien MRSA. Jadi pada kelompok pasien atau situasi klinis di mana lebih mungkin berkontak dengan bakteri dan virus yang berpotensi tersebar, petugas kesehatan seharusnya mencuci tangan setelah menangani pasien tersebut," kata Dr. Stone.
Studi tersebut menemukan petugas kesehatan memakai sarung tangan pada seperempat dari semua kontak dengan pasien. Dan sekitar 60 persen kasus tersebut petugas kesehatan tidak membersihkan tangan mereka baik sebelum atau setelah menangani pasien. Banyak interaksi yang diamati dalam penelitian tersebut yang mengambil tempat di bangsal perawatan intensif yang penuh dengan pasien lansia.
"Hal tersebut sangat membahayakan pasien, dimana pasien mempunyai risiko tertinggi mengalami infeksi ketika berada di rumah sakit," kata Dr. Stone.
"Tidak jelas mengapa dokter, perawat dan petugas rumah sakit lainnya kurang mempunyai kesadaran untuk mencuci atau mendesinfeksi tangan mereka sebelum dan setelah mengenakan sarung tangan. Mungkin hal tersebut dipengaruhi oleh kesalahpahaman yang tersebar luas pada kalangan petugas kesehatan bahwa sarung tangan kedap terhadap bakteri patogen," kata Dr Stone dan rekannya.
Sarung tangan memang menurunkan tingkat kontaminasi tangan, namun bakteri dan virus masih dapat melaluinya. Kelalaian petugas kesehatan yang tidak mencuci tangan terlebih dahulu sebelum dan sesudah mengenakan sarung tangan lateks tidak hanya terjadi di Inggris saja, namun juga hampir pada seluruh negara.
(mer/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar