Rabu, 09 November 2011

Kelambu Lebih Praktis Halau Malaria Dibanding Modifikasi Nyamuk

Your browser does not support iframes.




Prof Geoff McFadden (detikHealth)
Jakarta, Ada banyak cara untuk memberantas penyakit yang ditularkan nyamuk, termasuk Malaria dan Demam Berdarah. Menciptakan nyamuk modifikasi yang kebal penyakit adalah salah satunya, namun cara paling praktis tetap dengan memasang kelambu.

Beberapa ilmuwan di dunia telah banyak menciptakan nyamuk modifikasi atau genetically modified mosquito. Jenis modifikasinya beragam, mulai dari nyamuk jantan yang mandul hingga nyamuk kanibal yang bisa memangsa sesama nyamuk sehingga lama-kelamaan populasinya menipis.

Seorang ahli botani dari University of Melbourne yang sering meneliti Malaria, Prof Geoff McFadden membenarkan bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan nyamuk modifikasi. Salah satunya adalah, menciptakan nyamuk yang kebal parasit sehingga tidak menularkan penyakit.

Meski demikian, Prof McFadden menilai riset-riset semacam itu membutuhkan waktu yang lama sehingga butuh cara lain yang memberikan solusi dengan lebih cepat. Ada banyak cara yang bisa memberikan hasil yang sama, yakni mengendalikan populasi nyamuk.

"Banyak cara yang lebih simpel misalnya dengan mencegah nyamuk berkembang biak. Atau yang paling sederhana untuk mencegah penyakit, jangan sampai digigit misalnya dengan memakai kelambu," ungkap Prof McFadden usai memberikan kuliah umum di Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta, Rabu (9/11/2011).

Meski termasuk penyakit yang sangat tua, Malaria hingga saat ini masih menjadi ancaman terutama di daerah tropis. Diperkirakan tiap tahun terjadi sekitar 1 juta kematian akibat Malaria, sedangkan kasus penularan tercatat sekitar 500 juta orang tiap tahun.

Ancaman lainnya adalah lambatnya penemuan obat baru untuk mengatasi penyakit ini. Obat paling populer yakni Pil Kina hampir sudah tidak mempan lagi, sementara satu-satunya obat yang masih tersisa yakni Artemisinin (ACT/Artemisinin-Combination Therapies) dilaporkan mulai kebal dalam beberapa kasus di perbatasan Kamboja dan Thailand.




(up/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar