Jumat, 11 November 2011

Hidung Elektrik Mendeteksi TBC Lebih Cepat dan Akurat

Your browser does not support iframes.




Ilustrasi (foto: Thinkstock)
New Delhi, Deteksi dini bisa menyelamatkan jutaan orang dari kematian akibat Tuberculosis (TBC). Jika selama ini pemeriksaan TBC lewat dahak masih sulit dan mahal, kini ada alat baru untuk membuatnya jauh lebih mudah yakni dengan hidung elektrik.

Teknologi hidung elektrik atau E-nose tersebut merupakan hasil kerja sama para ilmuwan dari International Centre for Genetic Engineering and Biotechnology di New Delhi serta Next Dimension Technologies di California. E-nose diklaim lebih cepat dan akurat dibanding tes yang ada selama ini.

Bentuk dan ukurannya mirip alat untuk mendeteksi kadar alkohol dalam udara pernapasan, yang sering dipakai polisi lalu lintas untuk memeriksa pengemudi yang dicurigai mabuk. Bedanya, E-nose menangkap droplet atau butiran dahak lalu mendeteksi keberadaan kuman TBC.

"Kami berharap prototype alat ini sudah siap untuk menjalani uji klinis pada Oktober 2013," kata Ranjan Nanda yang memimpin riset untuk mengembangkan alat tersebut, seperti dikutip dari Globalpost, Selasa (8/11/2011).

Pemeriksaan TBC yang ada selama ini dilakukan dengan pengambilan sputum atau dahak. Sampel itu kemudian harus diperiksa di laboratorium, butuh waktu yang lama dan juga biaya yang tidak sedikit sehingga banyak orang malas melakukan pemeriksaan.

Akibatnya banyak orang di dunia terutama di negara-negara tropis yang tidak sadar bahwa dirinya sudah terinfeksi TBC. Padahal tingkat kematian akibat penyakit ini cukup tinggi, diperkirakan tiap tahun sedikitnya TBC membunuh 1,7 orang di seluruh dunia.

Deteksi dini terhadap infeksi TBC diperkirakan bisa mencegah kematian pada sekitar 400.000 pasien tiap tahun. Sementara jika tidak diobati, tiap 1 pengidap TBC berpootensi menularkan kuman tersebut melalui droplet atau bercak dahak ke 10-15 orang tiap tahunnya.

Meski diklaim lebih murah dari tes biasa, tampaknya harga jual E-nose masih tetap tinggi bagi sebagian besar warga di negara-negara miskin maupun berkembang. Tiap unit alat ini diperkirakan akan dibanderol sekitar US$ 20-30 atau sekitar Rp 179-208 ribu.



(up/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar