Ilustrasi (foto: Thinkstock)
Herbisida atau obat pembasmi gulma biasanya dipakai oleh para petani untuk menyaingi (membunuh) tanaman pengganggu di ladang. Di masa mendatang, herbisida bukan hanya untuk membasmi gulma tetapi sangat mungkin digunakan sebagai obat malaria.
Prof Geoff McFadden, seorang ahli botani dari University of Melbourne berhasil mengembangkan sebuah alternatif obat baru untuk malaria dari herbisida yang biasa dipakai para petani. Dalam 10 tahun terakhir, ia berhasil memodifikasi herbisida jadi obat baru untuk Malaria.
Inovasi ini didasari oleh penelitian tahun 1996 pernah mengungkap bahwa Plasmodium falciparum (kuman penyebab Malaria) memiliki nenek moyang yang sama dengan tanaman. Artinya kuman ini bukan semacam binatang seperti yang diduga selama ini, tetapi lebih dekat kekerabatannya dengan tanaman.
"Ada 500 kemiripan genetik antara Plasmodium dengan nenek moyang alga. Ini kami jadikan target baru untuk mengobati malaria dengan herbisida, yang harganya sangat murah," terang Prof McFadden dalam kuliah umum di Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Rabu (9/11/2011).
Saat ini, obat baru untuk Malaria tersebut telah memasuki tahap akhir penelitian. Berbagai uji di laboratorium telah membuktikan efektivitas dan keamanannya, namun Prof McFadden memperkirakan masoih butuh waktu agak lama untuk bisa digunakan pada manusia.
Obat terakhir untuk Malaria mulai tak manjur
Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Sangkot Marzuki, MD, PhD, DSc mengakui kebutuhan obat baru untuk Malaria memang sangat mendesak. Pil kina sudah menjadi masa lalu, mulai banyak kuman yang kebal terhadapnya dan hampir bisa dikatakan tidak manjur lagi.
Satu-satunya obat yang tersisa untuk Malaria hanyalah Artemisinin, yang sering diberikan dalam bentuk kombinasi ACT (Artemisinin-Combination Therapies). Meski masih ada obat yang manjur, jika obat baru tidak segera ditemukan maka artemisinin ini lama-kelamaan juga tidak akan manjur lagi.
"Jika dikatakan obat malaria habis, belum habis karena masih ada Artemisinin. Namun memang menjadi perhatian serius karena di perbatasan Kamboja dan Thailand sudah laporan kuman Malaria yang resisten (kebal) terhadap obat ini," kata Prof Sangkot.
Terkait obat baru yang dikembangkan Prof McFadden dari bahan herbisida, Prof Sangkot memberikan sambutan baik dan siap diajak bekerja sama. Menurutnya herbisida jenis thiolactomycin sangat murah dan memungkinkan untuk diproduksi secara massal, tentunya jika ada dukungan dari industri farmasi.
(up/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar