Your browser does not support iframes.
(Foto: thinkstock)Jakarta, Gangguan kesulitan bernapas saat tidur bisa menyebabkan masalah jangka panjang, khususnya pada wanita. Wanita dengan gangguan tidur apnea memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kognitif atau demensia (penyakit pikun).
Studi baru menemukan bahwa wanita tua memiliki kemungkinan 85 persen lebih tinggi mengalami penurunan kognitif ringan atau dementia selama 5 tahun ke depan jika menderita gangguan tidur apnea 15 kali atau lebih selama 1 jam tidur.
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur serius yang membuat penderitanya berulang kali berhenti bernapas selama tidur. Gangguan tidur ini berpotensi merusak otak.
"Ini adalah studi prospektif pada wanita tua yang diikuti dari waktu ke waktu untuk memahami hubungan apnea tidur dan gangguan kognitif atau demensia," jelas Dr Susan Redline, peneliti di divisi sleep medicine di Brigham and Women's Hospital, Boston, seperti dilansir Healthday, Rabu (10/8/2011).
Penelitian yang dilakukan Dr Redline menemukan adanya prevalensi sangat tinggi pada wanita dengan apnea yang tidak diobati.
"Sekitar sepertiga dari wanita memiliki gangguan tidur apnea dan wanita memiliki sekitar 80 persen peningkatan risiko mengembangkan gangguan kognitif atau demensia selama penelitian," jelas Dr Redline.
Meskipun studi ini tidak dirancang untuk mengungkap mekanisme berulang kekurangan oksigen dapat menyebabkan demensia, Dr Redline mencatat itu mungkin membahayakan kesehatan otak dengan mempengaruhi cara otak terus-menerus mengisi ulang sel-sel.
Studi ini melibatkan 298 wanita yang tidak memiliki demensia di awal penelitian. Rata-rata partisipan adalah sekitar 82 tahun. Semua partisipan menjalani studi tidur semalam menggunakan sensor dan pemantauan terkomputerisasi (polysomnography) antara 2002 dan 2004.
105 wanita didiagnosis dengan gangguan pernapasan saat tidur. Ini berarti mereka mengalami sekitar 15 atau lebih kejadian apnea per jam tidur. Selama kejadian apnea otak akan kekurangan oksigen.
Lima tahun setelah penelitian tidur, partisipan wanita diberi tes fungsi kognitif untuk menilai kesehatan otak mereka. Hasilnya, gangguan napas saat tidur secara signifikan meningkatkan risiko gangguan kognitif ringan dan demensia.
Peneliti juga menyesuaikan data untuk memperhitungkan faktor lain yang dapat berkontribusi pada gangguan kognitif atau demensia, seperti usia, pendidikan, indeks massa tubuh, diabetes, merokok, pengobatan dan nilai dasar untuk kesehatan otak.
Temuan ini telah diterbitkan dalam Journal of American Medical Association edisi 10 Agustus.<
(mer/ir
(Foto: thinkstock)Jakarta, Gangguan kesulitan bernapas saat tidur bisa menyebabkan masalah jangka panjang, khususnya pada wanita. Wanita dengan gangguan tidur apnea memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kognitif atau demensia (penyakit pikun).
Studi baru menemukan bahwa wanita tua memiliki kemungkinan 85 persen lebih tinggi mengalami penurunan kognitif ringan atau dementia selama 5 tahun ke depan jika menderita gangguan tidur apnea 15 kali atau lebih selama 1 jam tidur.
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur serius yang membuat penderitanya berulang kali berhenti bernapas selama tidur. Gangguan tidur ini berpotensi merusak otak.
"Ini adalah studi prospektif pada wanita tua yang diikuti dari waktu ke waktu untuk memahami hubungan apnea tidur dan gangguan kognitif atau demensia," jelas Dr Susan Redline, peneliti di divisi sleep medicine di Brigham and Women's Hospital, Boston, seperti dilansir Healthday, Rabu (10/8/2011).
Penelitian yang dilakukan Dr Redline menemukan adanya prevalensi sangat tinggi pada wanita dengan apnea yang tidak diobati.
"Sekitar sepertiga dari wanita memiliki gangguan tidur apnea dan wanita memiliki sekitar 80 persen peningkatan risiko mengembangkan gangguan kognitif atau demensia selama penelitian," jelas Dr Redline.
Meskipun studi ini tidak dirancang untuk mengungkap mekanisme berulang kekurangan oksigen dapat menyebabkan demensia, Dr Redline mencatat itu mungkin membahayakan kesehatan otak dengan mempengaruhi cara otak terus-menerus mengisi ulang sel-sel.
Studi ini melibatkan 298 wanita yang tidak memiliki demensia di awal penelitian. Rata-rata partisipan adalah sekitar 82 tahun. Semua partisipan menjalani studi tidur semalam menggunakan sensor dan pemantauan terkomputerisasi (polysomnography) antara 2002 dan 2004.
105 wanita didiagnosis dengan gangguan pernapasan saat tidur. Ini berarti mereka mengalami sekitar 15 atau lebih kejadian apnea per jam tidur. Selama kejadian apnea otak akan kekurangan oksigen.
Lima tahun setelah penelitian tidur, partisipan wanita diberi tes fungsi kognitif untuk menilai kesehatan otak mereka. Hasilnya, gangguan napas saat tidur secara signifikan meningkatkan risiko gangguan kognitif ringan dan demensia.
Peneliti juga menyesuaikan data untuk memperhitungkan faktor lain yang dapat berkontribusi pada gangguan kognitif atau demensia, seperti usia, pendidikan, indeks massa tubuh, diabetes, merokok, pengobatan dan nilai dasar untuk kesehatan otak.
Temuan ini telah diterbitkan dalam Journal of American Medical Association edisi 10 Agustus.<
(mer/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar