Your browser does not support iframes.
foto: ThinkstockMedford, Massachusetts, Perkembangan teknologi membuat segalanya jadi lebih mudah, termasuk untuk mengecek jenis kelamin bayi dengan tes darah yang hasilnya lebih cepat dan akurat. Meski praktis, metode baru ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli.
Diperkirakan, tes darah akan menjadi pilihan para ibu hamil untuk menentukan jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Dibanding USG (Ultrasonography) dan jenis pemeriksaan lainnya, tes darah jauh lebih praktis dan sudah bisa dilakukan sejak usia kehamilan 7 pekan.
Seperti diberitakan detikHealth sebelumnya, tes darah untuk mengecek jenis kelamin bayi telah dibuktikan akurasinya dalam sebuah penelitian. Dari 201 ibu hamil yang diperiksa, hampir 100 persen melahirkan bayi dengan jenis kelamin yang sama dengna hasil tes darah.
Baru-baru ini, penelitian Dr Diana Bianchi dari Tufts University kembali membuktikan akurasi tes darah. Dari 6.500 ibu hamil yang diperiksa, akurasinya mencapai 98,8 persen pada ibu hamil yang akhirnya melahirkan bayi laki-laki dan 94,8 persen pada ibu yang melahirkan bayi perempuan.
"Tes darah akan meminimalkan prosedur invasif yang selama ini dilakukan untuk mendeteksi kondisi genetik tertentu," ungkap Dr Bianchi seperti dikutip dari Reuters, Rabu (10/8/2011).
Kondisi genetik yang dimaksud Dr Bianchi antara lain hemofilia, yang umumnya lebih banyak menyerang janin laki-laki. Karena janin perempuan relatif lebih aman, tes darah bisa menghindarkan ibu hamil dari pemeriksaan hemofilia yang tidak perlu karena berisiko memicu keguguran.
Namun karena bisa mendeteksi jenis kelamin bayi pada usia kandungan yang sangat muda, metode ini juga dapat memicu kecenderungan untuk pilih-pilih jenis kelamin bayi. Jika jenis kelaminnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dikhawatirkan ada ibu-ibu yang menggugurkan kandungannya.
"Jika ada orangtua yang pilih-pilih jenis kelamin bayi lalu melakukan aborsi dengan alasan tersebut, maka itu akan jadi masalah. Ingat, gender bukan penyakit," ungkap Dr Mary Rosser, ahli kandungan dari Montefiore Medical Center di New York.<
(up/ir
foto: ThinkstockMedford, Massachusetts, Perkembangan teknologi membuat segalanya jadi lebih mudah, termasuk untuk mengecek jenis kelamin bayi dengan tes darah yang hasilnya lebih cepat dan akurat. Meski praktis, metode baru ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli.
Diperkirakan, tes darah akan menjadi pilihan para ibu hamil untuk menentukan jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Dibanding USG (Ultrasonography) dan jenis pemeriksaan lainnya, tes darah jauh lebih praktis dan sudah bisa dilakukan sejak usia kehamilan 7 pekan.
Seperti diberitakan detikHealth sebelumnya, tes darah untuk mengecek jenis kelamin bayi telah dibuktikan akurasinya dalam sebuah penelitian. Dari 201 ibu hamil yang diperiksa, hampir 100 persen melahirkan bayi dengan jenis kelamin yang sama dengna hasil tes darah.
Baru-baru ini, penelitian Dr Diana Bianchi dari Tufts University kembali membuktikan akurasi tes darah. Dari 6.500 ibu hamil yang diperiksa, akurasinya mencapai 98,8 persen pada ibu hamil yang akhirnya melahirkan bayi laki-laki dan 94,8 persen pada ibu yang melahirkan bayi perempuan.
"Tes darah akan meminimalkan prosedur invasif yang selama ini dilakukan untuk mendeteksi kondisi genetik tertentu," ungkap Dr Bianchi seperti dikutip dari Reuters, Rabu (10/8/2011).
Kondisi genetik yang dimaksud Dr Bianchi antara lain hemofilia, yang umumnya lebih banyak menyerang janin laki-laki. Karena janin perempuan relatif lebih aman, tes darah bisa menghindarkan ibu hamil dari pemeriksaan hemofilia yang tidak perlu karena berisiko memicu keguguran.
Namun karena bisa mendeteksi jenis kelamin bayi pada usia kandungan yang sangat muda, metode ini juga dapat memicu kecenderungan untuk pilih-pilih jenis kelamin bayi. Jika jenis kelaminnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dikhawatirkan ada ibu-ibu yang menggugurkan kandungannya.
"Jika ada orangtua yang pilih-pilih jenis kelamin bayi lalu melakukan aborsi dengan alasan tersebut, maka itu akan jadi masalah. Ingat, gender bukan penyakit," ungkap Dr Mary Rosser, ahli kandungan dari Montefiore Medical Center di New York.<
(up/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar