ilustrasi (foto: Thinkstock)
Baru-baru ini sebuah studi baru menemukan bahwa remaja yang suka main piting akan cenderung memiliki perilaku berisiko tinggi lainnya, termasuk penyalahgunaan seks, narkoba dan berjudi.
Dalam permainan memiting, tekanan diaplikasikan pada leher, baik dengan ikat pinggang, tali atau sarana lainnya untuk membatasi suplai oksigen dan darah ke otak. Ketika tekanannya dilepaskan, seringkali muncul perasaan 'melayang' atau euforia karena darah bergegas kembali ke otak.
Sarah Ramowski dari Oregon Health Authority di Portland dan koleganya mensurvei lebih dari 5.300 siswa kelas 8 di Oregon.
Hasilnya, 22 persen dari para remaja ini mengaku pernah mendengar tentang permainan memiting dan 6 persen diantaranya pernah berpartisipasi di dalamnya.
Diantara seluruh remaja yang berpartisipasi di dalam permainan memiting, 64 persen mengaku pernah mencobanya lebih dari sekali dan 26 persen telah mencoba lebih dari lima kali, ungkap peneliti seperti dilansir dari LiveScience, Selasa (17/4/2012).
Remaja putri kelas 8 yang telah aktif secara seksual pun diprediksi empat kali lebih besar memiliki kemungkinan pernah melakukan permainan memiting dibandingkan remaja putri yang tidak pernah berhubungan seksual.
Begitu juga dengan remaja yang berjudi, kemungkinannya hampir dua kali lipat pernah berpartisipasi dalam permainan itu dibandingkan dengan remaja yang tidak berjudi.
Bagi remaja putra yang telah mengonsumsi alkohol kemungkinannya empat kali lebih besar pernah main piting dibandingkan remaja putra yang tidak meminum alkohol, kata peneliti.
Oleh karena itu, para dokter harus meningkatkan kesadaran tentang permainan memiting dan menjelaskan risiko dan konsekuensi permainan itu terhadap remaja yang pernah melakukannya. Tentu saja karena dokter dapat melihat tanda-tanda (seperti bekas pitingan di leher yang berwarna merah) dan berkonsultasi dengan pasien tentang itu. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Pediatrics tersebut.
Sebanyak 82 anak diketahui telah meninggal akibat permainan memiting selama tahun 1995-2007, meski jumlah ini hanya menunjukkan korban-korban yang tereskpos media. Selebihnya, tidak pernah diketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar