Selasa, 13 September 2011

Tunda Haid, Calon Jamaah Haji Perempuan Jangan Suntik KB

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Jakarta, Bagi calon jamaah haji perempuan, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah menunda atau mengatur datangnya haid agar ibadah bisa lebih maksimal. Tapi untuk mengatur haid sebaiknya hindari penggunaan suntik KB.

"Penggunaan suntik KB dalam 2-3 bulan pertama biasanya memiliki efek samping pendarahan, jadi biasanya bingung sendiri," ujar Dr dr Dwiana Ocviyanti, SpOG(K) dalam acara simposium PAPDI Sehat Fisik dan Jasmani Selama Ibadah Haji di Aula FKUI, Jakarta, Selasa (13/9/2011).

Dokter yang biasa disapa Ovi ini menuturkan obat yang biasa digunakan untuk mengatur haid adalah yang mengandung hormon progesteron atau obat kombinasi dari hormon estrogen dan progesteron.

Disarankan bagi calon jamaah haji untuk memeriksakan diri ke dokter 3 bulan sebelumnya atau diupayakan jangan kurang dari 1 bulan, karena tidak semua orang boleh menggunakan pil penunda haid, seperti orang dengan kanker payudara.

Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi ada atau tidaknya kelainan atau kondisi lain yang bisa menimbulkan komplikasi, dan rencana pemberian obat pengatur ini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan siklus bulanannya.

Dr Ovi menuturkan pemberian pil pengatur haid tidak bisa dilakukan secara massal karena setiap orang kondisi kesehatan dan siklusnya berbeda-beda.

"Pil penunda haid itu bukan obat yang simsalabim langsung stop, tapi harus direncanakan dan diperiksa terlebih dahulu," ujar Dr Ovi dari Departemen Obstetri dan Ginekoligi FKUI/RSCM.

Ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat pengatur haid yaitu:

  1. Riwayat sakit kepala hebat atau migrain
  2. Riwayat tromboflebitis atau tromboemboli
  3. Varises berat
  4. Kanker payudara
  5. Perdarahan dari vagina yang belum diketahui penyebabnya
  6. Penyakit hati atau gangguan fungsi hati
  7. Penyakit jantung dan pembuluh darah
  8. Riwayat preeklamsia dalam kehamilan
  9. Diabetes yang berkomplikasi
  10. Hipertensi berat atau yang tidak terkontrol dengan baik
  11. Penggunaan obat-obatan rutin terutama obat TBC dan kencing manis
  12. Riwayat depresi atau gangguan kejiwaan

Jika tidak memiliki kondisi tersebut maka seseorang bisa mengatur haid dengan cara menunda haid (paling umum dikerjakan), memajukan haid atau mengatur haid (bagi yang siklus haidnya tidak teratur).

"Usahakan mengonsumsi pil pada jam yang sama setiap harinya, untuk menghindari munculnya bercak atau spotting. Kalau terjadi spotting maka kurangi aktivitas, tapi yang perlu diingat bahwa spotting ini bukanlah haid jadi masih bisa beribadah," ujar Dr Ovi.



(ver/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar