Senin, 19 September 2011

Penyakit Alzheimer Boleh Jadi Alasan untuk Cerai?

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Jakarta, Tidak mudah memang merawat pasangan yang mengidap Alzheimer. Penderitanya tidak bisa makan sendiri, bercakap-cakap, bahkan tak bisa ditinggal sendirian karena takut tiba-tiba menyalakan api atau berkeliaran. Tapi apakah kesulitan seperti itu boleh menjadi alasan untuk memutus tali pernikahan?

Penyiar acara religius Pat Robertson mengatakan bahwa menceraikan pasangan yang mengidap penyakit Alzheimer secara moral bisa dibenarkan. Ia menyebutnya sebagai penyakit yang 'seperti mati'.

Dalam acara televisi yang disiarkan secara langsung, Robertson ditanya oleh seorang penonton mengenai apa yang harus dia katakan kepada teman yang mulai mengencani wanita lain setelah tahu istrinya didiagnosis penyakit Alzheimer.

Robertson mengatakan bahwa ia tidak akan menyalahkan seseorang yang menceraikan pasangan karena pasangannya mengidap penyakit.

"Aku tahu, hal itu kedengarannya kejam. Tapi jika dia ingin berbuat sesuatu, dia harus menceraikan istrinya dan mulai pernikahan dari awal lagi. Tapi sebelumnya, pastikan istrinya memiliki perawatan yang intensif dan ada seseorang yang menjaganya," kata Robertson seperti dikutip dari The Globe and Mail, Senin (19/9/2011).

Seorang pemirsa menanyakan lalu bagaimana dengan sumpah pernikahan yang berbunyi 'sampai kematian memisahkan'? Robertson memberikan jawabannya, "Alzheimer merupakan gangguan neurologis progresif yang tidak dapat disembuhkan, seperti suatu bentuk kematian".

Alasan penyakit yang menyebabkan perceraian bukan hal yang aneh lagi. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2009 menemukan bahwa wanita enam kali lebih mungkin untuk berpisah atau bercerai setelah didiagnosis kanker atau multiple sclerosis daripada pria.

Meskipun merasa kesulitan akibat Alzheimer, banyak pasangan yang menawarkan perspektif berbeda. Salah satunya Gary Grais dari Vancouver yang diwawancarai harian The Globe and Mail edisi Demensia pada tahun 2010.

Ia menggambarkan isolasi hidupnya bersama seorang wanita yang tidak bisa berpakaian atau memasak sendiri dan yang nyaris tidak berbicara lagi. Tapi katanya, "Saya tidak akan meninggalkan dia di rumah kecuali jika benar-benar harus".

Kasus lain adalah Donna MacDiarmid yang berkendara setiap hari untuk memberi makan suaminya di panti jompo. Ia menemani suaminya setiap malam sampai suaminya tidur. "Apa yang saya lakukan bukanlah pengorbanan. Ini adalah waktu saya bersama dia. Inilah yang kami punyai, intim dan istimewa," katanya.

Meskipun kehidupan pernikahan mengalami berbagai kesulitan, tapi perceraian jarang ditemui pada pasangan yang salah satunya menderita Alzheimer.

Beth Kallmyer, direktur layanan Alzheimer Association mengatakan, "Kami tidak mendengar banyak orang yang mengatakan 'Saya akan bercerai'. Keluarga biasanya merawat mereka dengan segala upaya terhadap segala penyakit fatal lainnya".

"Stres dapat menjadi masalah dalam pernikahan, karena menyebabkan hilangnya kemampuan mental seseorang secara bertahap. Mengasuh orang sakit dapat benar-benar menyebabkan stres pada beberapa tingkat," katanya.

"Ada tingkat fisik, ada juga tingkat emosional seperti sedang kehilangan orang yang dicintai. Penting bagi pasangan untuk membuat keputusan mengenai perawatan bersama-sama sejak tahap awal penyakit ketika efeknya belum menonjol," pungkas Beth.



(ir/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar