Senin, 19 September 2011

Jumlah Kasus Malaria di Babel Menurun

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel) masih menjadi endemis penyakit malaria sepanjang tahun karena memang secara epidemiologi, geografis wilayah ini yang terdiri dari rawa dan laut menjadi tempat hidup habitat nyamuk.

Namun beberapa tahun belakangan sejalan dengan program menuju eliminasi malaria tahun 2020 diketahui jumlahnya kasusnya kian berkurang.

"Dulu semua panas dibilang malaria, tapi setelah diperiksa secara laboratorium belum tentu malaria," ujar Kepala Dinkes Provinsi Bangka Belitung Hendra Kusumajaya di kantor dinas Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Pangkal Pinang, Senin (19/9/2011).

Hendra menuturkan ada kesepakatan intervensi mengenai pelayanan kesehatan, salah satunya adalah dengan diagnosis melalui laboratorium. Dari hasil diagnosis laboratorium inilah diketahui bahwa tidak semua demam panas itu malaria sehingga jumlahnya menurun.

"Kalau diketahui positif maka dilakukan pengobatan ACT (Artemisinin Combination Therapy) untuk memutus mata rantai tersebut," ujar Hendra.

Saat ini kasus malaria di Provinsi Bangka Belitung rata-rata masih di bawah 5/1.000 kasus tapi masih di atas 1/1.000. Diharapkan tahun 2014 nanti jumlahnya bisa di bawah 1/1.000 kasus. Daerah yang masih tinggi jumlah kasusnya adalah Bangka Barat, Bangka Selatan dan Belitung Timur.

Berbagai hal dilakukan untuk mencegah tingginya kasus malaria seperti pembagian kelambu, pengobatan ACT dan juga maping tempat-tempat induk nyamuk, serta melakukan intervensi yang intensif terhadap faktor lingkungan dan perilaku (misalnya membiasakan Pola Hidup Bersih dan Sehat/PHBS)

Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium melalui vektor nyamuk. Bahaya yang ditimbulkan oleh parasit tersebut adalah terjadinya anemia. Pada penderita malaria, sel-sel darah merah dirusak oleh plasmodium.



(ver/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar