foto: Thinkstock
Salah satu penyedia layanan aborsi legal di Inggris, British Pregnancy Advisory Service (BPAS) berencana meluncurkan layanan SMS pengingat jadwal aborsi pada akhir November 2011. Layanan ini digagas karena selama ini banyak perempuan lupa jadwal aborsinya.
"Selama ini ada beberapa perempuan yang tidak datang ke klinik untuk melakukan aborsi sesuai waktu yang sudah dijadwalkan. Sebagian karena lupa, sebagian lagi memang berubah pikiran," ungkap juru bicara BPAS seperti dikutip dari Telegraph, Senin (19/9/2011).
Layanan ini tentunya ditujukan bagi perempuan yang tidak datang karena lupa, bukan karena berubah pikiran. Layanan serupa juga sudah lebih dulu diberikan oleh para dokter gigi di Inggris, untuk mengingatkan pasiennya terkait jadwal periksa yang sudah disepakati.
Meski tujuannya baik, gagasan ini langsung memicu kontroversi baik di kalangan medis maupun keagamaan. Pokok masalahnya tidak lain adalah aspek moral, karena pengingat jadwal aborsi dinilai akan menggiring para pelaku untuk bersikap santai saat mengambil keputusan.
Padahal keputusan untuk melakukan aborsi dikatakan sangat jauh berbeda dengan saat orang membeli pizza. Banyak yang melakukan aborsi karena kehamilannya tidak dikehendaki, sehingga butuh pendampingan dan konseling secara personal agar bisa memikirkan untung ruginya dengan pikiran yang jernih.
"Banyak yang hamil di luar nikah karena keputusan sesaat untuk berhubungan seks tanpa memikirkan akibatnya. Kadang juga di bawah pengaruh alkohol. Orang-orang ini butuh pendampingan dan dukungan secara personal, bukan hanya kiriman SMS," ungkap Dr Peter Saunders dari Christian Medical Fellowship.
Meski dilegalkan di beberapa negara, aborsi lebih banyak memberikan dampak negatif khususnya bagi perempuan. Secara fisik, risiko yang bisa terjadi antara lain perdarahan dan kerusakan organ reproduksi sedangkan secara psikis antara lain trauma dan dihantui perasaan bersalah.
(up/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar