Jumat, 10 Juni 2011

dr Boyke pun Segan Sama Dukun

Your browser does not support iframes.



dr Boyke (dok. detikHealth)Jakarta, Siapa yang tidak mengenal dokter Boyke Dian Nugraha, dokter spesialis kandungan (obstetri ginekologi) yang selama ini juga dikenal sebagai dokter seks. Meski profesi dokter sering berseberangan dukun, namun dokter Boyke mengaku segan sama dukun. Kenapa?

Sejak kecil dr. Boyke berpikir menjadi seorang dokter tidak akan pernah sakit dan sakit hanya bisa diobati dengan pengobatan medis. Tapi ketika bertugas sebagai Kepala Puskesmas Palas, Lampung Selatan dokter Boyke jatuh sakit yang tidak sembuh-sembuh walau sudah diobati secara medis.

"Saya pernah disembuhkan dukun, pernah kena guna-guna. Waktu itu saya kena berak darah, sudah diobati oleh dokter tapi nggak sembuh-sembuh, akhirnya dukun yang menyembuhkan saya," ujar dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.

"Pengalaman ini membuatku berpikir bahwa sesungguhnya ada kekuatan lain yang tak bisa disepelekan," jelas dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS, seperti dikutip dari buku 'The Doctors' terbitan PT Bhuana Ilmu Populer (BIP), Jumat (10/6/2011).

dr. Boyke menceritakan kisahnya yang dua kali pernah disembuhkan oleh dukun. Ketika ia mengalami patah pulang akibat kecelakaan. Setelah dilarikan ke rumah sakit dan difoto rontgen, kaki kanannya ternyata patah dengan engsel keluar dari tempatnya.

dr. Boyke menjelaskan awalnya ia berpikir rasional dalam setiap pengobatan sesuai dengan kaidah yang pernah ia terima semasa belajar ilmu kedokteran. Tetapi ada faktor lain yang membuatnya tidak bisa menolak bantuan mereka (masyarakat dan dukun). Ia harus menghargai kepedulian mereka dan akhirnya menerima tawaran tersebut.

"Kaki saya patah engselnya keluar. Kalau diobati di rumah sakit bisa sampai 30 hari atau lebih itu, tapi sama dukun saya 3 hari sembuh," ujar dr. Boyke.

Menurut dr. Boyke, dokter juga harus menghormati pengobatan tradisional yang ada. "Bukan hanya dokter yang pinter," katanya.

"Saya sih tidak pernah takut dengan yang begitu-begitu, karena dokter kan bukan dewa," kata dr. Boyke.

Awal Mula Jadi Dokter Seks

Tak hanya tentang kisahnya yang pernah berobat ke dukun, dalam bukunya dr. Boyke juga menceritakan lika-liku perjuangannya menjadi dokter seks. Saat menjadi dokter dan menjalani Wajib Kerja Sarjana (WKS) sebagai Kepala Puskesmas Kecamatan Palas, Lampung Selatan, ia merasa masih banyak hal yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat, yang kalau tidak disampaikan akan membuat mereka tersesat. Salah satunya tentang pendidikan seks, sebuah hal yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

Keinginan untuk mendalami pendidikan seks berawal dari minimnya pengetahuan kesehatan reproduksi dan seks pada masyarakat di sebuah desa di Lampung.

Awalnya ada seorang pasien yang mengeluhkan kehidupan perkawinannya yang tak kunjung dikaruniai anak. Setelah ditanya, ternyata pasien tersebut selama ini menganggap pusar sebagai vagina.

"Mitos bahwa 'seks itu tabu' telah menutup pikiran mereka sehingga menyesatkan tindakannya. Bagaimana bisa pusar dianggap sebagai vagina," tulis dr. Boyke.

Selain kasus tersebut, ada pula kejadian ketika dr. Boyke menjadi kepala sekolah sebuah SMA di Lampung karena kurangnya tenaga pengajar. Ia merasa heran dengan murid-murid perempuannya yang lama-kelamaan berkurang karena berhenti sekolah. Setelah ditanya, ternyata anak-anak itu hamil karena menjadi korban pergaulan bebas dari lelaki yang datang dari kota, hingga hamil dan akhirnya menikah.

"Anak-anak cantik itu harus mengorbankan masa depannya akibat kurangnya pengetahuan tentang seks," lanjut dr. Boyke.

dr. Boyke merasa yakin kondisi masyarakat disana hanyalah puncak dari gunung es, masih banyak desa-desa lain di pelosok negeri ini yang kondisinya sama. Ia merasa harus mendobrak mitos-mitos seks yang sudah jelas-jelas menyesatkan banyak masyarakat.

"Seks dianggap tabu untuk dibicarakan di tengah-tengah masyarakat, tetapi di belakang itu video-video porno beredar luas dan diam-diam ditonton anak-anak. Hal ini justru akan menyesatkan mereka," tulisnya.

"Namun, pendidikan spesialis apa yang bisa memberiku gelar dokter spesialis seks? Tidak ada. Aku harus mengambil spesialis yang berdekatan dengan urusan seks --antara psikiatri atau kebidanan dan kandungan. Akhirnya, aku putuskan untuk mengambil spesialis kebidanan dan kandungan. Alasannya, seks berkaitan erat dengan organ-organ reproduksi," tulis dr. Boyke.

Menjadi dokter yang mendalami seksologi ternyata tidak semulus yang ia bayangkan. Sebab seks masih dianggap tabu untuk dibahas, sehingga lingkungan pasti akan sulit menerima.

"Karena itu aku butuh dukungan dari rekan sejawat atau para seniorku. Namun, yang aku dapat adalah jawaban yang cukup mengecewakan. 'Kalau pendidikan spesialismu sudah selesai dan kamu memilih menekuni seksologi, itu sudah bukan tanggung jawab kami lagi sebagai pendidik,' kata salah satu dosenku," kenang dr. Boyke.

dr. Boyke banyak menemui pasien yang mengalami gangguan fungsi seksual, seperti organ intim berbau, tidak percaya diri dengan bentuk vaginanya, tidak mau melayani suami karena rahimnya sudah diangkat dan sebagainya, yang akhirnya terpaksa harus ia layani di Klinik Pasutri, kliniknya sendiri.

"Dari situ aku pun mulai melakukan edukasi tentang seks melalui berbagai seminar dan talk show di radio dan televisi. Namun seperti yang aku katakan, seks masih dianggap tabu, bahkan oleh beberapa kalangan dokter sendiri. Akibatnya, aku menjadi bahan omongan," tulis dr. Boyke.

Tapi pemerintah melalui Departemen Penerangan era Orde Baru memberi peringatan keras padanya karena penjelasan-penjelasannya yang dianggap vulgar. Acaranya di televisi pun harus dihentikan. Teror telepon dan komentar negatif dari teman bahkan sejawat tak jarang diterimanya.

"Bahkan ada yang mengatakan mendengarkan ceramah dr. Boyke adalah zina telinga dan menonton acara dr. Boyke di televisi itu adalah zina mata," kenangnya.

Teror pun sampai juga ke telinga orangtua, istri dan anak-anaknya. Ia mulai bergeming, mengingat teror-teror yang ditujukan kepada keluarganya. Namun akhirnya ia memutuskan untuk mencari jawaban daru Tuhan dengan berangkat haji.

Dan jawaban itu, ia dapatkan dengan begitu nyata setelah ia berdoa di depan Hajar Aswad. Di hotel tempatnya menginap, banyak jemaah haji dari Indonesia mendatanginya dan bertanya tentang kehidupan seks, dari perselingkuhan yang dilakukan pasangan hingga impotensi.

"Ketika waktu salat datang, banyak orang menawari aku salat ditempatnya. Dan seusai sholat, mereka menyerbuku dengan pertanyaan tentang seks. Ketika dalam perjalanan pulang pun aku masih meladeni pertanyaan teman-teman jemaah haji di dalam pesawat terbang. Dengan senang hati aku menjawab semua pertanyaan mereka. Gratis," tulis dr. Boyke.

Tuhan menjawab keraguannya lewat semua kejadian itu. Kini, ia yakin bahwa ia sudah melangkah di jalan yang benar, sebagaimana yang disediakan Tuhan untuk perjalanan kariernya di bidang seks dan kesehatan reporduksi.

Selain itu ada dua buku yang memotivasinya untuk mendalami bidang yang ia pilih, yaitu The Parfume Garden (Kamasutra Arab) yang ditulis oleh Syekh Muhammad Al Nafzawi, filsuf muslim dari Tunisia yang hidup di abad ke-16 Masehi. Buku itu membahas tentang seks di dunia Islam.

Buku kedua adalah buku Human Sexuality karya Master and Johnson, dua orang seksolog asal Amerika, yang kebanyakan isinya adalah data-data ilmiah tentang seks dan manusia.

"Kini, masyarakat sudah mulai terbuka terhadap seks. Di mal, sekolah, bahkan pengajian, seks sudah menjadi bahan pembicaraan yang umum. Dulu, kalau aku berbicara di sebuag seminar harus memakai surat izin polisi dan mereka menjaga acara itu. Sekarang aku malah menjadi pengajar tamu di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), SESKOAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) dan LEMHANAS (Lembaga Ketahanan Nasional)," tulis dr. Boyke.


Biodata

Nama: dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS
Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 14 Desember 1956
Tinggal di: Sentul, Bogor
Status: Menikah dengan dr. Hj. Ferry Lasemawati, SpRad, memiliki 3 anak
Pendidikan:
SD Priangan, Bandung
SMP Negeri I, Cikini, Jakarta
SMA Negeri IV Jakarta
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (dokter umum, 1981)
FKUI (dokter spesialis obs-gyn, 1990)
Fakultas Pascasarjana UI (magister administrasi rumah sakit, 1996)
Pekerjaan: Dokter, aktor
Aktivitas Lain: Pengajar tamu di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), SESKOAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) dan LEMHANAS (Lembaga Ketahanan Nasional).




(mer/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar