foto: Thinkstock
Pada sebuah studi baru telah menunjukkan bahwa, tikus yang kekurangan orexin, akan mengalami kelebihan berat badan ketika diberi makan dengan diet tinggi lemak jika dibandingkan dengan tikus yang tidak kekurangan orexin. Hormon orexin merupakan hormon yang diproduksi di otak.
Meskipun masih merupakan temuan baru, para peneliti menyarankan bahwa, kadar hormon orexin yang cukup mungkin dapat menjadi salah satu cara untuk membantu seseorang menurunkan berat badan.
Para peneliti membandingkan tikus normal dengan tikus yang direkayasa agar mengalami kekurangan orexin. Ketika tikus-tikus tersebut diberi diet tinggi lemak selama 6 minggu, tikus yang kekurangan orexin mengalami peningkatan berat badan sebesar 45 persen, sedangkan tikus normal hanya mengalami peningkatan 15 persen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tikus yang kekurangan orexin terjadi penambahan berat badan meskipun tikus tersebut makan lebih sedikit dibandingkan dengan tikus normal.
"Tanpa hormon orexin, tikus secara permanen diprogram untuk menjadi gemuk. Sedangkan dengan hormon orexin, brown fat (lemak coklat) tubuh diaktifkan sehingga dapat membakar lebih banyak kalori," kata peneliti Devanjan Sikder, asisten profesor di Sanford-Burnham Research Institute seperti dilansir My Health News Daily, Rabu (5/10/2011).
"Hasil penelitian kami dapat menjawab pertanyaan bahwa, mengapa beberapa orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki fakta bahwa mereka tidak makan terlalu banyak," kata Sikder dalam laporannya yang dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism.
Pada manusia, kekurangan hormon orexin sering ditemui pada penderita narcolepsia, yakni rasa kantuk berlebihan di siang hari yang kadang-kadang memicu serangan tidur yang tidak terkendali. Dengan kata lain, orang yang sering ngantuk di siang hari lebih rentan gemuk meski makannya sedikit.
(ir/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar