(Foto: thinkstock)
Sebuah penelitian yang melibatkan 152 orang dengan 98 persen dari peserta penelitian mengalami stroke iskemik. Stroke iskemik adalah jenis yang paling umum dari stroke, yang terjadi ketika terdapat gumpalan blok aliran darah di otak.
"Pada penelitian ini dilakukan pengukuran kadar kimia otak yang disebut glutamat. Ketika aliran darah ke otak terganggu, glutamat akan dilepaskan dengan cepat ke dalam aliran darah," ujar peneliti Kerstin Bettermann, MD, PhD, yang merupakan seorang profesor neurologi di Penn State College of Medicine, Hershey, seperti dikutip dari MedicineNet, Selasa (4/10/2011).
Setiap tahun, lebih dari 750.000 orang Amerika mengalami stroke dan sekitar 80 persennya adalah stroke iskemik. Sedangkan sisanya mengalami stroke hemoragik, yang disebabkan oleh pendarahan di otak. Saat ini, tidak ada tes darah untuk mendeteksi stroke, meskipun beberapa ilmuwan sedang mengembangkan tes darah untuk mendeteksi stroke.
Ketika seseorang tiba di ruang gawat darurat rumah sakit dengan gejala stroke, CT scan atau MRI kepala digunakan untuk membantu dokter menentukan apakah stroke sedang berlangsung. Sehingga hasil pemeriksaan tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pemberian obat penghilang gumpalan darah.
"Tetapi CT scan tidak selalu menghasilkan gambar yang cukup jelas mengenai apa yang terjadi di otak. MRI memang salah satu prosedur pemeriksaan yang dibutuhkan untk mendiagnosa stroke, tetapi tidak semua pusat medis telah memiliki pemeriksaan MRI. Selain itu, beberapa pasien juga tidak dapat melakukan pemeriksaan MRI, misalnya jika pasien memakai alat pacu jantung atau mengalami sesak napas," kata Bettermann.
Oleh karena itu tes darah untuk mendeteksi stroke akan sangat berguna, tes ini memerlukan biaya sekitar $ 20. Tes darah untuk mendeteksi stroke dapat menggantikan pemeriksaan MRI oleh dokter, yang tidak dapat dilakukan pada semua pasien. Namun, tes MRI juga masih akan digunakan sebagai pemeriksaan penunjang.
Kenaikan kadar glutamat pada pasien stroke
Penelitian untuk mengukur kemaikan kadar glutamat telah dilakukan pada 50 orang penderita stroke iskemik dan 102 orang bukan penderita stroke. Pada kelompok bukan penderita stroke, 48 orang memiliki faktor risiko stroke seperti diabetes atau tekanan darah tinggi tetapi tidak ada riwayat stroke, 28 orang mengalami gejala seperti stroke, antara lain kelemahan pada satu sisi tubuh tetapi tidak menderita stroke, dan 26 orang sehat. Tingkat glutamat diukur dalam darah peserta penelitian dalam waktu 24 jam gejala pertama mereka (atau dalam kasus orang tanpa gejala).
"Dilakukan pemeriksaan CT scan pada kepala dan pemeriksaan MRI juga, untuk mengkonfirmasi apakah mereka mengalami stroke. Setelah satu jam, kadar glutamat mulai meningkat pada pasien yang mengalami stroke. Terdapat perbedaan yang jelas dalam kadar glutamat antara pasien stroke iskemik dan semua kelompok lain," kata Bettermann.
Ralph Sacco L, MD, kepala neurologi di University of Miami Miller School of Medicine dan mantan presiden dari the American Heart Association/American Stroke Association mengatakan bahwa, pengembangan tes darah yang akurat untuk mendeteksi stroke iskemik tetap menjadi tujuan yang penting.
"Tes semacam ini dapat mempercepat diagnosa dan pengobatan untuk stroke. Tes darah tersebut tampaknya dapat menjanjikan, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hasil penelitian terdahulu. Perlu juga diketahui apakah kadar glutamat meningkat pada orang yang memiliki stroke hemoragik dan transient ischemic attacks (TIAs)," tambah Sacco.
Untuk saat ini, pencitraan otak seperti CT scan dan MRI masih merupakan alat diagnostik untuk mendiagnosa stroke. Langkah berikutnya adalah memvalidasi temuan ini dalam penelitian yang lebih besar. Hasil penelitian tersebut telah dibahas dalam pertemuan tahunan American Neurological Association.
(ver/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar