Selasa, 04 Oktober 2011

Risiko HIV Saat Pakai KB Suntik Naik 2 Kali Lipat di Afrika

Your browser does not support iframes.




foto: Thinkstock
Jakarta, Kondom dan KB suntik sama-sama populer sebagai alat kontrasepsi. Namun jika kondom bisa mengurangi risiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV), di Afrika KB suntik dan metode KB hormonal lainnya justru meningkatkan risiko 2 kali lipat.

Sebuah penelitian berskala besar di Afrika Sub-Sahara membuktikan bahwa metode kontrasepsi dapat meningkatkan risiko penularan HIV, virus mematikan pemicu AIDS. Metode KB hormonal yang dimaksud antara lain meliputi pil KB, implan atau susuk dan terutama KB suntik.

Hasil pengamatan terhadap 3.790 pasangan heteroseksual menunjukkan bahwa perempuan lebih mudah tertular HIV saat memakai kontrasepsi hormonal. Bukan hanya lebih rentan tertular, perempuan yang memakai KB suntik dan sejenisnya juga lebih berisiko menularkan HIV ke pasangannya.

Beberapa kesimpulan dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet Infectious Diseases tersebut antara lain sebagai berikut, seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Rabu (5/10/2011).

1. Perempuan 2 kali lebih berisiko tertular HIV saat menggunakan metode kontrasepsi hormonal
2. Peningkatan risikonya akan lebih besar jika metode kontrasepsi hormonal yang digunakan adalah KB suntik DMPA (depot medroksiprogesteron asetat).
3. Pengguna kontrasepsi KB suntik juga 2 kali lebih berisiko menularkan HIV ke pasangannya.

Dibanding metode kontrasepsi lain seperti kondom, kontrasepsi hormonal termasuk KB suntik lebih digemari karena dianggap praktis dan tidak mengganggu kenikmatan. Diperkirakan hampir 140 juta pasangan di seluruh dunia memilih kontrasepsi hormonal.

Namun bekerjanya pada sistem hormonal, maka efek sampingnya sebenarnya lebih banyak dibanding kontrasepsi lainnya. Beberapa pengguna kontrasepsi hormonal khususnya pil KB mengeluhkan timbulnya flek dan jerawat di wajah, serta adanya peningkatan berat badan.

Hubungan antara kontrasepsi hormonal dengan risiko penularan HIV sendiri sudah beberapa kali diteliti, namun hasilnya tidak pernah konsisten. Penelitian terbaru yang dilakukan di University of Washington kali ini merupakan yang terbesar dan diklaim lebih terpercaya.

Pengaruh hormon

Produsen yang memproduksi kontrasepsi suntik hormonal yang merupakan merek paten dari Depo-Provera, yaitu Pfizer menolak untuk mengomentari studi tersebut. Penulis jurnal hanya mengatakan bahwa, suntik hormonal yang digunakan oleh para perempuan Afrika tersebut mungkin versi generik.

Hasil studi tersebut menemukan bahwa, perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal menjadi terinfeksi pada tingkat 6,61 per 100 orang per tahun, dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan metode tersebut berada pada tingkat 3,78. Transmisi HIV pada laki-laki terjadi pada tingkat 2,61 per 100 orang per tahun untuk wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal dibandingkan dengan 1,51 bagi mereka yang tidak menggunakan.

Progestin dalam kontrasepsi suntik tampaknya memiliki efek fisiologis, kata para ilmuwan. Renee Heffron, seorang ahli epidemiologi mengatakan bahwa, "Penelitian telah memeriksa apakah perubahan hormonal pada jaringan genital atau cairan vagina tidak meyakinkan. Studi pada kera menemukan bahwa, progestin menipiskan jaringan vagina, namun penelitian di kalangan perempuan tidak menunjukkan penipisan jaringan vagina yang sama."

"Progestin mungkin menyebabkan perubahan kekebalan pada vagina dan leher rahim atau dapat meningkatkan kemampuan replikasi virus HIV," kata Dr Morrison, salah seorang editor di jurnal Lancet.

"Para peneliti mengukur konsentrasi virus HIV dalam cairan vagina yang terinfeksi, dan telah ditemukan ada virus HIV dalam cairan vagina pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal daripada perempuan yang tidak menggunakan," kata Dr Jared Baeten, seorang ahli epidemologi dan penyakit menular.

"Para peneliti juga menemukan bahwa, kontrasepsi oral tampaknya meningkatkan risiko infeksi dan transmisi HIV, namun jumlah pengguna pil dalam penelitian tersebut terlalu kecil untuk dianggap signifikan secara statistik," tulis para peneliti.




(up/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar