(Foto: thinkstock)
Studi terbaru menemukan bahwa pengguna kokain memiliki peningkatan risiko mengembangkan glaukoma, yaitu kerusakan penglihatan yang biasanya disebabkan oleh meningkatnya tekanan bola mata.
Di Indonesia glaukoma telah menjadi penyebab kebutaan nomor dua setelah katarak. Berbeda dengan katarak yang masih bisa dioperasi, glaukoma adalah 'si pencuri penglihatan' yang tidak bisa disembuhkan karena kerusakan yang terjadi pada saraf mata.
Dalam studi tersebut, peneliti dari Veterans Health Administration's Health Services Research and Development Service di Indianapolis menganalisis catatan kesehatan dari 5,3 juta veteran AS yang telah menggunakan klinik rawat jalan pada tahun 2009.
Peneliti menemukan bahwa hampir 83.000 atau sekitar 1,5 persen dari para veteran menderita glaukoma. Menurut peneliti, pada tahun 2009 hampir 178.000 veteran yang terlihat di klinik rawat jalan memiliki diagnosis penyalahgunaan atau ketergantungan kokain.
Studi juga mengungkapkan bahwa pengguna kokain dan mantan pengguna kokain memiliki 45 persen peningkatan risiko glaukoma sudut terbuka, yaitu peningkatan tekanan mata secara bertahap karena melukai saraf optik. Seiring waktu, tekanan mata ini bisa menyebabkan kebutaan.
Selain itu, studi menemukan bahwa pasien dengan glaukoma dan riwayat penggunaan narkoba ilegal hampir 20 tahun lebih muda menderita glaukoma dibandingkan pasien tanpa riwayat paparan narkoba. Rata-rata pengguna kokain dan narkoba akan menderita glaukoma di usia 54 tahun dibandingkan usia 73 tahun untuk non pengguna narkoba.
Selain kokain, pria dengan glaukoma sudut terbuka juga memiliki paparan signifikan dengan ganja dan amfetamin seperti metamfetamin, meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kokain.
"Asosiasi penggunaan narkoba ilegal dengan glaukoma sudut terbuka memerlukan studi lebih lanjut, tetapi jika hubungan ini dikonfirmasi, pemahaman ini bisa menyebabkan strategi baru untuk mencegah kehilangan penglihatan," ujar Dustin French, peneliti studi dan ilmuwan riset di VA's Center of Excellence on Implementing Evidence-Based Practice dan asisten profesor di Indiana University School of Medicine, seperti dilansir Livescince, Rabu (5/10/2011).
Menurut peneliti, glaukoma bisa saja terjadi pada usia yang lebih muda karena penggunaan kokain dan narkoba biasanya dimulai pada usia remaja atau 20-an.
Studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Glaucoma edisi September.
(mer/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar