Rabu, 14 Desember 2011

Profesor Obat: Steve Jobs Korban Pengobatan Homeopati

Your browser does not support iframes.




Steve Jobs (dok. getty image)
Adelaide, Australia, Saat divonis terkena tumor neuroendokrin (jenis kanker pankreas) pada Oktober 2003, Steve Jobs pernah mengaku ia tidak langsung melakukan pengobatan secara medis tapi mencoba perawatan herbal. Pendiri Apple yang meninggal 5 Oktober 2011 dalam usia 56 tahun itu baru mau melakukan operasi 9 bulan setelah divonis kanker.

Dalam buku biografi yang berjudul 'Steve Jobs' karya Walter Isaacson, ditulis Jobs menunda operasi selama 9 bulan setelah didiagnosis menderita tumor neuroendokrin pada Oktober 2003. Tumor neuroendokrin merupakan jenis kanker pankreas yang relatif jarang dan biasanya tumbuh lebih lambat dan bisa diobati.

Untuk meredam kankernya, Jobs mencoba diet vegan, akupunktur, obat herbal dan perawatan lain yang ia temukan secara online dan bahkan berkonsultasi dengan paranormal.

Dalam buku tersebut dijelaskan juga bahwa Jobs dipengaruhi oleh seorang dokter yang mengelola sebuah klinik. Ia disarankan untuk puasa jus, pembersihan usus dan pendekatan lainnya yang belum terbukti, sebelum akhirnya menjalani operasi pada Juli 2004.

Menurut Profesor pengobatan komplementer pertama di dunia, Edzard Ernst tidak semua pengobatan alternatif aman dan berkhasiat digunakan. Beberapa pengobatan yang belum terbukti bahkan bisa membuat nyawa pasien terlambat ditolong, salah satunya pada Steve Jobs yang disebutnya sebagai korban homeopati.

Prof Edzard Ernst menyerukan agar obat-obatan komplementer (pelengkap) dapat diuji dengan lebih ketat. Menurutnya obat-obatan alternatif yang belum terbukti berkhasiat telah berkontribusi pada banyak kematian orang di dunia, termasuk pendiri dari Apple Inc, Steve Jobs.

"Steve Jobs menunda operasinya untuk kanker pankreas, karena memilih menggunakan pengobatan yang belum terbukti pada akhirnya. Homeopati benar-benar harus diselidiki, melihat kematian kanker Steve Jobs yang benar-benar tragis," ujar Prof Edzard Ernst, profesor pengobatan komplementer pertama di dunia, saat konferensi Australasian Pharmaceutical Science Association di University of South Australia, seperti dilansir Perthnow, Rabu (14/12/2011).

Menurut Prof Ernst, pengobatan komplementer yang belum terbukti dapat menyesatkan pasien yang akibatnya bisa sangat berbahaya. Ia meminta pengujian terhadap obat-obatan tradisional bisa lebih diperketat.

"Australia adalah salah satu kelompok pengguna tertinggi secara global. Sekitar 50 persen dari populasi umum menggunakan beberapa bentuk pengobatan komplementer," lanjutnya.

Ia mendukung beberapa obat komplementer yang sudah terbukti seperti St John's wort, namun tidak untuk homeopati, aromaterapi, obat herbal, obat bunga Bach dan terapi magnetik.

Menurutnya, kebanyakan informasi yang salah tentang homeopati telah memberikan kontribusi terhadap kematian, kemungkinan termasuk pada Steve Jobs, yang meninggal karena kanker pankreas pada bulan Oktober.

"Masalah yang mengerikan, kesalahan informasi, kurangnya peraturan dan pengujian klinis. Pengobatan ini harus diuji dengan cara yang persis sama dengan yang kita lakukan untuk obat lain. Hanya ada satu ilmu pengetahuan dan tidak ada alternatif untuk ilmu pengetahuan," tegas Prof Ernst.

Prof Ernst mengatakan klaim bahwa terapi alternatif bekerja yang dibuat tanpa bukti adalah suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab dan kriminal.

Homeopati adalah bentuk pengobatan alternatif di mana praktisi kesehatan akan mengobati pasien dengan menggunakan prinsip penyakit dapat disembuhkan dengan bahan alami yang mungkin jadi penyebabnya.

Obat homeopati diklaim bekerja bersama dengan sistem kekebalan tubuh dan mempertahankan diri dari serangan penyakit. Artinya homeopati dapat merangsang meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, mempercepat penyembuhan dan mencegah komplikasi tanpa efek samping. Obat homeopati mengobati secara keseluruhan, baik fisik, emosi dan mental.



(mer/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar