Senin, 19 Desember 2011

Perut ke Atas Bagian Dukun, Perut ke Bawah Urusan Bidan

Your browser does not support iframes.




Hj Sri Ariati (dok: detikHealth)
Jakarta, Kemitraan antara dukun beranak dan bidan terus terjalin. Seperti di Majene Sulawesi Barat, dukun dan bidan sudah paham tugasnya masing-masing jika menangani pasien secara bersamaan. Perut ke atas bagian dukun, sedangkan perut ke bawah urusan bidan.

"Dukun masih sangat dipercaya tapi kini praktiknya sudah berubah. Kalau dulu ia hanya sendiri tapi sekarang ia sudah bermitra," ujar bidan Hj Sri Ariati finalis Srikandi Award untuk kategori Tantangan Budaya, disela-sela acara konferensi Pers Srikandi Award 2011 di Bidakara, Jakarta, Senin (19/12/2011).

Bidan Sri menuturkan untuk itu kini ada kemitraan antara dukun dan juga bidan, yaitu untuk urusan dari perut ke atas adalah tugas dari dukun tapi untuk urusan dari perut ke bawah itu adalah tugas bidan.

"Itu kan memang jatahnya bidan yang menarik kepala bayi yang menjahit, secara medis itu bidan. Kalau dukun tugasnya memberikan sugesti seperti usap-usap ibunya atau memberikan air yang sudah dibaca-dibaca oleh si dukun, meski airnya hanya dibaca Bismillah saja," ujar Sri yang menjadi nominasi Srikandi Award 2011 kategori tantangan budaya.

Sri mengungkapkan kalau selama ini ia merasa nyaman bermitra dengan dukun karena mereka tergolong pintar dan masyarakat sangat percaya. Untuk itu solusi yang ada adalah merangkul secara kekeluargaan dan keagamaan serta tidak bisa ditentang.

Jumlah dukun beranak atau disebut dengan Sando sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan jumlah bidan di daerah tersebut. Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Bidan Sri kepada masyarakat adalah dengan mempelajari bahasa Mandar, yaitu bahasa sehari-hari masyarakat Banggae, Majene, Sulawesi Barat.

"Saya bilang wah dukun itu pintar bisa dipercaya oleh masyarakat, kalau bidan bodoh tidak ada pasiennya. Pokoknya saya selalu muji-muji dia, maksudnya supaya saya bisa masuk dan mau bekerja sama," ujar bidan kelahiran Manado, 14 Desember 1953.

Selain itu masyarakat disana banyak yang masih percaya dengan dukun karena kalau ada pasien yang mau melahirkan biasanya bidan akan meninggalkan ibu jika masih pembukaan 2, tapi kalau dukun tidak ia akan mengusap-usap ibunya, sabar dan mau bermalam di rumahnya.

Kalau bidan tidak bisa bermalam atau menunggui ibu karena tugas bidan masih banyak yang lainnya. Selain itu kalau dukun selalu mukanya ceria karena ia tidak tahu kalau ada risiko dalam persalinan, semua ibu dianggap sama. Sedangkan bidan itu kalau ada risiko raut mukanya terlihat khawatir.

"Kita enggak boleh galak menghadapi ibu yang mau melahirkan, kalau mau teriak saja karena dengan teriak ada kekuatan jadi bayinya bisa meluncur, jadi saya biarkan saja kalau ibunya mau teriak," ujar Sri yang sudah jadi bidan sejak tahun 1973.

Hal lain yang dilakukan oleh bidan Sri adalah mengubah kebiasaan adat lokal yang bisa merugikan ibu dan bayi. Menurut adat setempat, agar fisiknya kembali kuat maka ibu yang baru saja melahirkan harus mengangkat air dari sumur ke rumah.

Tapi untungnya masyarakat kini sudah mau disuntik TT (Tetanus, Toksoid) dan bayi serta balita mau ditimbang ke posyandu, meski harus bikin timbangan bentuk hewan seperti bebek atau ayam agar bayi dan balita mau ditimbang.

"Ya memang selalu ada tantangan, tapi yang penting kita bisa membaur dengan mereka serta masyarakat dan kita enggak boleh yang 'wah' dengan mereka," ungkap Sri yang sudah menjadi bidan di Kelurahan Banggae, Majene, Sulawesi Barat sejak tahun 1980.

(ver/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar