Edison Siahaan (dok. detikHealth)
Edison Siahaan (73 tahun) merokok sejak remaja sekitar usia 17 tahun. Ia termasuk perokok berat karena setidaknya 3 hingga 4 bungkus rokok ia hisap habis setiap hari. Sekitar 50 tahun ia menjadi pecandu rokok hingga akhirnya didiagnosis dokter menderita kanker laring (kotak suara) pada tahun 1995.
Kanker sebesar genggaman tangan bersarang di daerah lehernya, yang akhirnya harus dilakukan operasi pengangkatan pita suara. Operasi tersebut harus membuat Edison kehilangan pita suara yang berarti ia tak bisa bicara lagi. Yang lebih mengerikan, terdapat lubang sebesar ibu jari di lehernya, persis seperti gambar lubang di leher yang mengeluarkan asap rokok, yang terdapat di bungkus-bungkus rokok Amerika.
"Saya perokok berat, 3 sampai 4 bungkus sehari. Sangat-sangat berat untuk bisa berhenti merokok dan saya baru berhenti merokok setelah operasi. Saking candunya, bayangkan waktu saya di RSCM selama 2 malam untuk menunggu operasi, saya masih sempat keluar ruangan untuk merokok. Yang namanya candu susah untuk dibasmi," jelas Edison dengan terbata-bata, dalam acara temu media 'Merokok Mengintimidasi HAM' di Yayasan Kanker Indonesia, Jakarta, Rabu (14/12/2011).
Ketika berbicara, suara Edison terdengar hilang timbul, terang saja karena suara yang ia hasilkan berasal dari saluran makan esofagus yang ia latih agar bisa mengeluarkan suara.
Bila duduk di sampingnya Anda bisa mendengar suara seperti hembusan angin yang ternyata berasal dari lubang di lehernya. Lubang tersebut juga merupakan lubang napas, karena kini hidungnya tak lagi berfungsi.
Melalui lubang tersebut Edison bernapas dan jaraknya sangat dengan paru-paru, yakni hanya sekitar 10 cm. Itu membuatnya harus berhati-hati karena lubang tersebut langsung terhubung dengan paru-paru. Lubang itu tidak boleh kemasukan air, benda asing bahkan polusi udara sekalipun.
Meski sudah didiagnosis kanker sejak tahun 1995, Edison baru memutuskan ingin operasi pada tahun 2002.
"Saya baru operasi tahun 2002 karena saya tahu kalau operasi saya sudah tidak bisa lagi bicara," jelas kakek yang sekarang aktif menjadi instruktur di Speech Training Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Edison baru benar-benar berhenti merokok setelah ia dioperasi. Kini sebagai korban rokok, ia aktif menyuarakan bagaimana bahayanya rokok. Ia juga meminta LSM melakukan banyak penyuluhan agar masyarakat tahu bahwa merokok itu berbahaya.
Sama dengan Edison, Zainudin (38 tahun) juga merupakan korban rokok. Bedanya Zainudin bukanlah penggila rokok melainkan perokok pasif yang jadi korban asap rokok.
Zainudin pernah menghisap rokok namun hanya sesekali demi penghormati teman-temannya. Namun ia tidak terpengaruh oleh candu rokok karena tidak sama sekali tidak merokok ketika di rumah atau melakukan aktivitas lain.
Malangnya, ia menjadi korban asap rokok orang lain dan didiagnosis menderita kanker yang sama dengan Edison, yakni kanker laring (kotak suara) pada Desember 1995. Tak seperti Edison, ia segera memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan pita suara pada Februari 1996.

"Gejala kanker laring awalnya suara serak, sering batuk-batuk dan sesak napas karena ada benjolan kanker di pita suara. Saya bicara tanpa pita suara tapi secara alami dari suara saluran makan yang namanya esofagus. Kalau orang-orang kena polusi ada bulu hidung yang menyaring, tapi kalau saya tidak ada karena dari lubang di leher ini jaraknya cuma 10 cm ke paru-paru," jelas Zainudin dengan suaranya yang lebih terdengar seperti robot.
Zainudin merupakan korban kanker laring termuda karena menurutnya rata-rata penderita kanker laring berusia di atas 50 tahun. Karena lubang di lehernya yang sangat sensitif, ada beberapa hal yang harus dihindarinya, yaitu air, benda asing dan polusi udara.
"Kalau mandi saya basahi air sampai dada, kalau keramas harus nunduk, jadi nggak boleh kemasukan air. Tapi sering juga kena cipratan-cipratan air, ya langsung batuk-batuk gitu jadinya. Kemana-mana harus ditutup, kalau mau naik angkot saya harus memastikan bahwa di angkot tidak ada yang merokok, karena saya berbeda dengan kalian, polusi udara langsung masuk paru-paru nggak ada lagi penyaring di hidung," tutup Zainudin.
Pada tahun 2002 ia juga pernah dikirim ke Jepang selama 3 bulan untuk melatih kemampuan bicara melalui saluran makan. Sepulang dari sana, Zainudin dan Edison kini menjadi relawan yang mengajarkan cara berbicara pada sesama mantan penderita kanker laring yang kehilangan pita suara di Speech Training RSCM.
(mer/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar