Selasa, 06 Desember 2011

Makan Nasi Bisa Tingkatkan Kadar Arsenik Dalam Tubuh

Your browser does not support iframes.




(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Beras dianggap oleh kebanyakan orang sebagai bahan makanan yang cukup sehat. Tapi ternyata beras dapat menjadi sumber nyata dari paparan arsen anorganik. Asupan harian beras diprediksi dapat menambah beban kumulatif paparan arsen anorganik.

Arsenik anorganik merupakan bentuk beracun arsen dalam urine.

Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian Michael S. Bloom, PhD, asisten profesor di University at Albany, New York. Studi tersebut mengukur kadar arsenik dalam urine dari 229 wanita hamil di New Hampshire. New Hampshire merupakan sebuah negara bagian di AS yang 40 persen orang mendapatkan sumber air dari sumur.

Air sumur terkadang memiliki tingkat yang lebih tinggi dari arsenik dibandingkan air yang sudah diolah oleh perusahaan air minum, yang harus memenuhi standar keamanan federal.

Peneliti memeriksa kadar arsenik pada air yang dikonsumsi oleh wanita. Peneliti juga meminta para perempuan untuk menuliskan makanan apa yang dimakan dalam 3 hari sebelum tes urine.

Setelah penghitungan kadararsenik dalam air minum, ternyata peneliti juga menemukan kadar arsenik anorganik yang sedikit tinggi pada wanita yang baru saja makan nasi dibandingkan dengan wanita yang tidak makan nasi.

"Wanita yang makan hanya setengah cangkir nasi setiap hari akan mendapatkan arsenik sama seperti jika mereka minum satu liter air keran pada batas maksimum yang diperbolehkan EPA untuk arsenik," kata Michael S. Bloom, PhD seperti dilansir dari WebMD, Rabu (7/12/2011).

Studi itu menunjukkan bahwa padi kemungkinan menjadi sumber yang signifikan dari arsenik dalam diet wanita hamil. "Paparan arsenik selama kehamilan cukup mengkhawatirkan. Arsenik mampu melintasi barrier plasenta dan dapat membahayakan perkembangan bayi," kata para peneliti.

Rice Federation USA menyatakan bahwa semua arsenik dalam air adalah anorganik, yaitu bentuk beracun dari arsen. Beberapa arsenik ditemukan dalam beras organik. Padahal beras organik merupakan jenis beras yang diyakini tidak berbahaya.

Setiap gram beras yang dimakan oleh wanita dikaitkan dengan peningkatan 1 persen pada kadar arsenik. Satu gram beras adalah sekitar 48 butir.

"Penelitian tersebut benar-benar mempelajari mengenai paparan arsenik, namun tidak mempelajari pengaruhnya terhadap kesehatan," kata Margaret R. Karagas, PhD, seorang profesor community and family medicine in epidemiology dari Dartmouth Medical School in Lebanon.

Penelitian telah mengaitkan kadar arsenik yang tinggi pada wanita hamil untuk peningkatan risiko keguguran. Paparan arsenik dalam rahim juga telah dikaitkan dengan berat badan lahir rendah pada anak-anak dan peningkatan risiko kematian bayi.

Kebanyakan kasus tersebut terjadi di negara berkembang, dimana wanita memiliki tingkat arsenik 50-200 kali lebih tinggi daripada yang terlihat dalam penelitian ini.

Hasil studi telah menunjukkan bahwa bahwa orang dengan paparan arsenik jangka panjang memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kulit, paru-paru, dan kandung kemih. Arsenik juga telah dikaitkan dengan risiko lebih tinggi dari penyakit kardiovaskular.

Ulasan hasil penelitian tersebut bukan berarti untuk melarang orang-orang yang mengonsumsi nasi. Namun, sebaiknya orang-orang memilih jenis-jenis beras yang akan mereka makan.

Hasil studi telah menemukan beras merah mengandung kadar yang lebih tinggi dari arsenik dibandingkan dengan beras putih, karena arsenik berkonsentrasi di lapisan luar dari dedak beras.

Hasil penelitian tersebut sangat berguna bagi perkembangan penelitian mengenai makanan pokok populer yang banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Namun penelitian yang lebih besar lagi perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi dan mendukung hasil penelitian tersebut.

Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengetahui lebih baik mengenai efek kesehatan dari paparan arsen dari mengonsumsi beras tersebut.

(ir/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar