(Foto: thinkstock)
Yang amat berbeda adalah London, sebab peta jalannya lebih mirip jalinan benang kusut daripada tata kota metropolis. Namun sopir taksi London memiliki kemampuan navigasi yang akurat dan mampu mencari rute tercepat antara dua titik.
Dalam sebuah penelitian, para ilmuwan mengatakan bahwa sopir taksi London tidak hanya memiliki pusat-pusat memori yang lebih besar, tetapi juga pelatihan intensif yang telah dilakukan menyebabkan pertumbuhan pada otaknya. Sayangnya, unggul di salah satu bentuk memori dapat menghambat fungsi otak yang lain.
Dalam artikel yang dimuat dalam jurnal Current Biology, seorang neuroscientist dari University College London (UCL) Eleanor Maguire menemukan bukti bahwa pada sopir taksi, bagian belakang dari Hipokampusnya lebih besar namun bagian depan biasanya lebih kecil daripada rata-rata. Bagian belakang hipokampus penting untuk navigasi spasial, tapi peran bagian belakangnya masih belum diketahui.
"Kami tidak tahu berapa lama efek yang dibutuhkan untuk menyebabkan perubahan bagian hipokampus tersebut. Bisa jadi muncul beberapa waktu setelah peserta memenuhi syarat menjadi sopir taksi. Tapi kami menemukan perubahan tersebut dalam waktu lima tahun yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian," kata Maguire seperti dilansir HuffingtonPost, Senin (12/12/2011).
Untuk mendapatkan lisensinya, sopir taksi dalam pelatihan menghabiskan tiga sampai empat tahun mengemudi di sekitar kota, menghafal labirin 25.000 jalan dalam radius 10 kilometer dari stasiun kereta api Charing Cross, serta ribuan tempat wisata. Dari serangkaian ujian yang melelahkan, hanya sekitar 50 persen dari pelamar yang berhasil lulus.
Dalam penelitian awal, Maguire menemukan bahwa sopir taksi London memiliki materi abu-abu lebih banyak di area hipokampus posterior daripada orang lain dalam usia, pendidikan dan kecerdasan yang sama, tetapi tidak mengemudikan taksi.
Dengan kata lain, sopir taksi memiliki pusat-pusat memori yang lebih gemuk dibandingkan teman sebayanya. Nampaknya seseorang telah lama mengemudi taksi, hipokampusnya lebih besar, seolah-olah otak diperluas untuk mengakomodasi tuntutan kognitif menavigasi jalanan London. Tetapi mungkin juga bahwa orang-orang yang dipilih menjadi pengemudi taksi memiliki pusat-pusat memori yang lebih besar dari rata-rata.
Untuk memastikannya, Maguire dibantu rekannya Katherine Woollett, memutuskan untuk mengikuti 79 calon sopir taksi selama empat tahun untuk mengukur pertumbuhan hipokampusnya dengan scan otak MRI ketika selesai menghafal jalan.
Sebagai pembanding, Maguire juga mengukur pertumbuhan otak 31 orang yang tidak mengemudi taksi dengan usia, pendidikan, dan kecerdasan yang sama sebagai calon pengemudi taksi.
Pada awal penelitian, semua peserta memiliki ukuran hipokampus yang sama. Maguire juga memastikan bahwa calon sopir taksi dan bukan sopir taksi mendapat skor yang sama pada tes memori kerja dan memori jangka panjang.
Empat tahun kemudian, 39 orang dari 79 peserta pelatihan berhasil mendapatkan izin mengemudi taksi. 20 orang peserta yang gagal ujian sepakat untuk terus berpartisipasi dalam penelitian ini.
Ketika Maguire memberikan serangkaian tes memori yang sama pada awal pelatihan kepada peserta pelatihan yang sukses dan yang gagal, ia menemukan bahwa pengemudi yang mendapatkan lisensi mendapat skor yang jauh lebih baik daripada peserta yang gagal, meskipun pernah menjalani tes yang sama empat tahun sebelumnya. MRI juga menunjukkan bahwa pada peserta yang berhasil mendapat lisensi mengemudi taksi, hipokampusnya telah berkembang dari waktu ke waktu.
Ada beberapa cara untuk menjelaskan perkembangan hipokampus. Hipokampus dapat menumbuhkan neuron baru dan dapat membuat lebih banyak koneksi dengan satu sama lain. Sel non-saraf yang disebut sel glial membantu mendukung dan melindungi neuron, juga dapat berkontribusi meningkatkan volume hipokampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar