Selasa, 20 Desember 2011

Februari: Kontroversi Hasil Penelitian Susu Formula

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Jakarta, Dalam penelitian tahun 2003-2006, Insitut Pertanian Bogor menemukan 22 sampel susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii. Penelitian selama 2003-2006 itu baru dipublikasikan IPB tahun 2008 tanpa menyebut merek susunya. Lalu seorang konsumen bernama David Tobing menuntut Menteri Kesehatan untuk menyebut nama-nama susu yang terkontaminasi tersebut.

Gugatan David Tobing menang di Pengadilan dan juga menang di Mahkamah Agung (MA). Menindaklanjuti keputusan MA tersebut Menteri Kesehatan mengumumkan hasil penelitiannya. Tentu saja hasilnya berbeda karena Menkes tidak menyebut nama susu yang dulu diteliti tapi melakukan penelitian baru antara tahun 2008-2011.

Dalam jumpa pers pada 10 Februari 2011, Menkes mengatakan tidak menemukan adanya susu yang tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii terhadap penelitian yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Penelitian pertama dilakukan BPOM awal tahun 2008, hasilnya tidak ada satupun dari 96 sampel susu formula yang terkontaminasi Enterobacter Sakazakii. Pada saat itu, standar tentang keberadaan E.Sakazakii memang belum diatur dalam Codex (Standar Internasional Kesehatan Konsumen).

Codex baru menetapkan standar baru bahwa susu formula tidak boleh mengandung E.Sakazakii pada bulan Juli 2008. Sebagai salah satu anggota Codex, Indonesia mengadopsi standar tersebut pada Oktober 2008 dan menjadikannya standar nasional.

Setelah standar baru ditetapkan, BPOM kembali melakukan penelitian terhadap 11 sampel susu formula pada tahun 2009 dan lagi-lagi tidak menemukan sampel yang terkontaminasi. Sedangkan untuk tahun 2011, hingga bulan Februari telah meneliti 18 sampel dan belum juga menemukan ada cemaran E.Sakazakii.

Menkes menambahkan, secara alami E.Sakazakii bisa ditemukan di lingkungan, baik dalam makanan, usus manusia sehat maupun usus beberapa spesies binatang dan tidak semuanya berbahaya. Jenis yang berbahaya bisa memicu diare, infeksi pencernaan bahkan meningitis jika menyerang sistem saraf.

Menurutnya kontaminasi E.Sakazakii dalam susu formula bisa terjadi sejak pengolahan bahan baku maupun proses pasteurisasi (pemanasan) yang tidak steril. Selain itu, proses penyiapan sebelum dikonsumsi juga bisa mencemari susu terutama jika tidak cuci tangan dulu dan alat yang dipakai tidak steril.

"Bakteri ini sebenarnya gampang mati, dengan pemanasan 70 derajat celcius saja sudah mati. Selain itu, pastikan cuci tangan sebelum menyiapkan susu dan jangan mengkonsumsi susu yang sudah disiapkan sejak 2 jam sebelumnya. Susu yang sudah disiapkan lebih dari 2 jam harus dibuang dan ganti dengan yang baru," tambah Menkes.

Jadi kesimpulannya menurut pemerintah bisa saja sampel susu yang digunakan dalam penelitian oleh IPB kebetulan adalah susu yang terkontaminasi, tapi dalam beberapa batch lain bakteri itu tidak ada.

Menkes juga mengaku tidak bisa memaksa IPB untuk mengumumkan karena IPB tidak punya kewajiban melaporkan hasil penelitian ke Kementerian Kesehatan.

Meski kejadiannya sudah lewat, tetap saja masyarakat kecewa dengan tak diumumkannya merek susu formula yang diteliti IPB tersebut. Pro kontra kemudian berlanjut, ada yang tetap ngotot perlunya merek susu diumumkan, ada juga yang mengatakan sudahlah tutup saja kasusnya.

Kemudian untuk menjawab keresahan masyarakat yang masih ada tersebut, Kementerian Kesehatan melakukan riset terbaru yang dilakukan per tahun 2011. Hasil riset terbaru tentang susu formula ini diumumkan pada tanggal 8 Juli 2011. Hasilnya, bakteri penyebab meningitis tersebut tidak ditemukan dalam 47 merek yang diteliti.

Kontroversi memang mereda karena publik terlanjur kecewa. Publik maunya merek susu yang diteliti IPB diumumkan tapi pemerintah menawarkan riset-riset terbaru.


(ir/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar