Rabu, 14 Desember 2011

Dokter-dokter di Kenya Mogok Kerja Minta Naik Gaji

Your browser does not support iframes.




(dok: Reuters)
Nairobi, Selama seminggu terakhir, para dokter di rumah sakit umum Kenya menggelar mogok kerja nasional. Demi menuntut kenaikan gaji, sejak minggu lalu para dokter berkumpul di ibukota dan meninggalkan banyak pasien tanpa pengawasan di rumah sakit pemerintah.

Sekitar 2.300 anggota serikat dokter telah mogok bekerja di negara Afrika Timur setelah pada Senin (5/12/2011) pemerintah setempat mengatakan tidak bisa memenuhi tuntutan dokter yang meminta kenaikan gaji sebesar 300 persen.

Lebih dari 600 dokter lengkap dengan jas putihnya berbaris sejak hari Rabu (7/12/2011) di pusat kota Nairobi menuju ke gedung Departemen Keuangan sambil melambaikan plakat dan meneriakkan slogan mendukung pemogokan. Mereka mengenakan pita biru pada jas sebagai tanda solidaritas dengan penderitaan mereka.

"Pemogokan akan berlanjut sampai pemerintah menanggapi suara kami," kata Boniface Chitayi, sekretaris jenderal serikat dokter Kenya, Medical Practitioners and Dentists Union (MPDU), seperti dilansir Reuters, Rabu (14/12/2011).

Protes itu adalah yang terbaru dalam serangkaian kebijakan industri yang telah mencengkeram Kenya pada beberapa bulan terakhir. Guru sekolah dasar, dosen universitas dan perawat marah atas meningkatnya biaya hidup hingga akhirnya melakukan pemogokan, tetapi kemudian kembali bekerja setelah mencapai kesepakatan dengan negara.

Para dokter mengatakan mereka mendapatkan rata-rata 35.000 shilling (sekitar Rp 3,5 juta) per bulan dan menuntut membayar lebih tinggi karena biaya hidup melambung. Inflasi tahunan mencapai hampir 20 persen pada November 2011 yang sudah naik selama 13 bulan berturut-turut.

Dokter-dokter bahkan tetap ingin melanjutkan pemogokan selama seminggu dan mengabaikan permintaan pemerintah untuk kembali bekerja dan membalikkan keputusan sebelumnya untuk mengakhiri aksi industri.

Pasien-pasien akhirnya banyak yang terlantar karena dokter jaga yang ada tidak bisa menangani semua pasien yang masuk.

"Saya sudah di sini sepanjang hari saya membawa anak saya untuk operasi untuk mengobati sakit perut. Tapi dia belum diperhatikan," kata Anne Nduta (32 tahun) yang menggendong anaknya usia 6 tahun di rumah sakit umum terbesar di negara itu, Kenyatta National Hospital.

(mer/ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar