(Foto: thinkstock)
Histerektomi merupakan pengobatan yang umum untuk berbagai penyakit, seperti tumor rahim dan perdarahan yang berlebihan. Kebanyakan pasien sangat puas dengan hasil histerektomi.
"Tapi ada potensi risiko operasi yang harus dipertimbangkan bersama dengan manfaatnya," kata peneliti, Patricia G. Moorman, PhD, MSPH, profesor di Departemen Masyarakat dan Kedokteran Keluarga di Duke University seperti dikutip dari esciencenews.com, Rabu (16/11/2011).
Sebanyak 600.000 wanita di Amerika Serikat telah menjalani histerektomi setiap tahunnya, namun dampak jangka panjang prosedur ini belum didokumentasikan dengan baik.
Tim Duke menganalisis hampir 900 orang wanita berusia 30 sampai 47 tahun di dua rumah sakit, Duke University Hospital dan Rumah Sakit Daerah Durham. Peneliti memberikan tes darah dan kuesioner kepada para peserta selama lima tahun.
Sebanyak 465 orang perempua di antaranya adalah perempuan sehat yang tidak menjalani operasi, sementara 406 orang wanita lainnya pernah menjalani histerektomi untuk mengangkat setidaknya satu ovarium.
Mempertahankan ovarium (indung telur) saat mengangkat rahim masih memungkinkan perempuan tetap memproduksi hormon seks. Namun para dokter telah lama mengetahui bahwa menopause dini dapat meningkatkan risiko osteoporosis, penyakit jantung dan penyakit lainnya.
Meskipun tetap mempertahankan ovarium, tim Duke menemukan bahwa 14,8 persen wanita menopause dalam penelitian ini pernah menjalani histerektomi, dibandingkan dengan 8 persen wanita yang belum pernah menjalani operasi.
Risiko menopause ditemukan paling tinggi pada wanita yang satu ovariumnya diangkat bersama dengan rahimnya. Namun risiko ini tetap tinggi pada wanita yang kedua ovariumnya masih dipertahankan.
Para peneliti memperkirakan menopause terjadi sekitar dua tahun lebih dini pada wanita yang menjalani histerektomi. Sayangnya, masih belum diketahui apa yang memicu ovarium berhenti berfungsi setelah menjalani histerektomi.
"Hipotesisnya, operasi mengganggu aliran darah ke ovarium sehingga memicu kegagalan ovarium lebih dini. Ada ahli lain yang berspekulasi penyebabnya bukan operasi, tapi kondisi yang mendasari sebelum operasi lah yang menyebabkan itu. Sampai sekarang, pertanyaan ini belum terjawab," kata Moorman.
Moorman berharap hasil temuan timnya ini bisa menjadi pertimbangan bagi perempuan yang akan menjalani histerektomi untuk mengeksplorasi pilihan pengobatan lain atas penyakitnya mengingat kemungkinan menopause dini.
(ir/ir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar