Rabu, 28 Desember 2011

Seks Sejak Usia Dini Bisa Sebabkan Perceraian di Kemudian Hari

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Jakarta, Pengalaman seksual pertama adalah hal yang traumatis dan berpotensi menyebabkan masalah dalam hubungan di kemudian hari. Sebuah peneltian menemukan bahwa perempuan yang kehilangan keperawanan pada usia dini memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami perceraian dalam perkawinan pertamanya.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Marriage and Family ini didasarkan pada survei yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics di Amerika Serikat pada tahun 2006 terhadap 7.643 orang perempuan dalam kelompok usia 15-44 tahun.

Waktu dan konteks adalah faktor kunci dalam penelitian ini. Jika seorang gadis berusia di bawah 14 tahun kehilangan keperawanan dengan cara yang tidak diinginkan, dia cenderung memiliki banyak pasangan seksual sebelum pernikahan, berisiko memilik kehamilan yang tidak diinginkan, dan berpotensi menderita penyakit menular seksual. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa dia mungkin akan bercerai dalam lima tahun setelah pernikahan pertama.

Seks yang tidak diinginkan dalam penelitian didefinisikan ketika seseorang merasa tertekan untuk melakukan hubungan seks atau mungkin menajdi korban pelecehan seksual. Pulih dari penganiayaan bukan hal yang mudah, butuh waktu, usaha dan bahkan mungkin banyak terapi.

Ditemukan bahwa perempuan yang melakukan hubungan seks setelah usia 18 tahun jauh lebih kecil kemungkinannya untuk bercerai dalam lima tahun pertama pernikahan selama pernikahan pertama. Kekurangan penelitian ini adalah tidak memperhitungkan status pekerjaan dan pendidikan yang biasanya berkontribusi pada perceraian.

"Perceraian terjadi karena banyak alasan dan kadang-kadang tidak dapat diperkirakan. Kapan, bagaimana dan mengapa seorang perempuan kehilangan keperawanan dapat berkontribusi hubungannya di kemudian hari, tetapi tentu bukanlah satu-satunya alasan dalam perceraian," kata peneliti, Anthony Paik dari Department of Sociology, University of Iowa.

Penelitian yang dilansir fyiliving.com, Kamis (29/12/2011) ini menegaskan kembali kepada para orangtua mengenai pentingnya pendidikan seks kepada anak-anak remajanya. Meskipun perceraian terkadang bukan hal yang dapat dihentikan, setidaknya sedikit wawasan akan mampu mencegah remaja berbuat terlalu jauh dalam pergaulannya.

(ir/ir

Saluran Kemih Ditumbuhi Rambut Gara-gara Salah Operasi

Rambut Pirang Jadi Hijau Karena Pencemaran Air Ledeng

Mau Dikeluarkan Lewat Operasi, Paku Malah Tertelan Lagi 3 Kali

Your browser does not support iframes.




(dok. orange)
Hubei, China, Seorang tukang kayu di China dengan tidak sengaja menelan paku hingga masuk ke dalam paru-paru kanan. Malangnya, saat paku sedang dikeluarkan, sang pria malah terbatuk hingga paku masuk kembali dan kejadian serupa berulang sampai 3 kali.

Li Xiangyang (48 tahun) dari Huangshi, Provinsi Hubei, China kini sedang dalam masa pemulihan di rumah sakit setelah dengan tidak sengaja menelan paku berukuran 6 inci (15,24 cm) hingga 3 kali, seperti dilansir orange.co.uk, Rabu (28/12/2011).

Saat itu, Li sedang bekerja seperti biasa sebagai tukang kayu. Ia menggigit paku di sela-sela giginya, namun tiba-tiba ia terbatuk dan tidak sengaja menelan paku tersebut.

Li langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat yaitu Wuhan University Hospital dan hasil pemeriksaan sinar-X menunjukkan bahwa paku bersarang di paru-paru kanannya.

Menyadari paku tersebut harus segera dikeluarkan, Professor Hu Ke memasukkan bronkoskop serat optik ke tenggorokannya untuk menarik paku keluar. Celakanya, saat paku sudah berada diambang jalan keluar di mulut, Li terbatuk dan paku tersedot kembali ke tenggorokannya.

Kali ini paku bersarang di paru-paru kirinya. Prof Hu mencoba lagi untuk mengeluarkan paku tersebut, namun pada menit terakhir lagi-lagi Li tanpa sengaja menelan paku hingga menghilang.

Dokter tidak bisa menemukan paku di paru-paru kiri maupun kanan, hingga akhirnya paku ditemukan berada di dalam perut si tukang kayu.

Dokter akhirnya harus mengeluarkan paku dengan menggunakan penjepit gastroscope setelah paku tertelan 3 kali di tenggorokan Li. Beruntungnya paku tersebut tidak sampai menimbulkan luka yang dapat mengancam nyawanya. Kondisi Li pun kini sudah mulai pulih.


(mer/ir

Tingkat Stres Bisa Diukur dari Berat Tas Belanjaan

Your browser does not support iframes.




(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Mengukur tingkat stres bisa dilakukan dengan berat tas belanjaan yang dibawa. Peneliti menemukan makin berat tas belanjaan makin mudah orang terpicu kena stres. Berat yang dibawa mempengaruhi beban psikologis seseorang.

Sebaliknya tas belanjaan yang enteng membuat orang lebih bebas dan lepas beban psikologisnya sehingga tidak membuat faktor stresnya bangun.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan hal yang cukup mengejutkan, peneliti mendapatkan membawa tas belanja yang berat bisa meningkatkan kadar stres. Hal ini karena mengangkat benda berat bisa mempengaruhi kesehatan mental yang membuat seseorang memikirkan hal-hal serius atau menyedihkan.

Jika tingkat stres meningkat maka seseorang akan mengalami masalah dalam pola tidur, kehilangan nafsu makan, sulit berkonsentrasi dan dampak kesehatan yang lebih serius termasuk tekanan darah tinggi.

Para peneliti dari Chinese University of Hongkong dan National University of Singapore menganalisis bagaimana berat badan secara fisik bisa meningkatkan kadar stres dengan menilai reaksi dari konsumen yang berbelanja.

Satu kelompok partisipan memegang tas belanja yang penuh dengan barang lalu diminta memberikan pendapatnya mengenai suatu topik yang tidak berhubungan dengan belanjaan, sedangkan kelompok lainnya dibiarkan tidak memegang apa-apa dan ditanya topik yang sama.

Hasil studi yang dilaporkan dalam Journal of Consumer Research ini mendukung penelitian sebelumnya yang mana menunjukkan berat secara fisik bisa mempengaruhi beban psikologis seseorang.

"Pengalaman fisik yang membuat seseorang membawa beban berat bisa mempengaruhi penilaian orang tersebut terhadap suatu hal serta beban psikologis salah satunya adalah stres," ujar peneliti Meng Zhang dan Xiuping Li, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (28/12/2011).

Mungkin pesan dari peneliti ini jangan terlalu banyak belanja, karena membawa tas belanjaan yang banyak dan berat justru bisa memicu stres. Berbelanja yang konon bisa membuat orang bahagia dan tidak stres malah bisa jadi stres jika barang belanjaannya banyak.

(ver/ir

Banyak Berpelukan Membuat Orang Sehat dan Bahagia

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Jakarta, Jika Anda sudah mempunyai pasangan sering-seringlah dipeluk karena banyak berpelukan membuat orang bahagia. Kebahagiaan batin ini membuat orang terhindar dari stres sehingga mendapatkan tubuh yang lebih sehat.

Memeluk dan membelai membantu meningkatkan kepuasan dalam hubungan pernikahan jangka panjang. Penelitian juga menemukan bahwa kelembutan lebih penting bagi pria daripada perempuan, pria lebih mungkin merasa bahagia dalam hubungannya dan perempuan cenderung lebih puas dengan hubungan seksualnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Kinsey Institute di Indiana University ini melibatkan lebih dari 1.000 pasangan dari Amerika Serikat, Brasil, Jerman, Jepang, dan Spanyol yang telah menikah selama rata-rata 25 tahun. Para peserta beusia 40 hingga 70 tahun.

Pria lebih mungkin merasa bahagia dalam pernikahannya jika berada dalam kondisi kesehatan yang baik dan penting bagi mereka jika pasangan mengalami orgasme saat berhubungan seks. Sering memeluk dan mencium juga dapat memprediksi kebahagiaan laki-laki, tetapi tidak bagi perempuan. Perempuan maupun laki-laki merasa makin bahagia jika semakin lama bersama dan memiliki fungsi seksual dengan tingkat yang lebih tinggi.

"Laki-laki dan perempuan Jepang secara signifikan lebih bahagia dengan pernikahannya daripada orang Amerika, yang lebih bahagia dari Brasil dan Spanyol," kata direktur Kinsey Institute, Julia Heiman.

Kepuasan seksual pada perempuan dan laki-laki berkaitan dengan seringnya berciuman dan berpelukan, dibelai oleh pasangan, fungsi seksual yang tinggi, dan sering bercinta. Untuk pria, memiliki pasangan lebih dari satu dalam hidupnya adalah pertanda kurangnya kepuasan seksual.

Kepuasan seksual bagi perempuan meningkat dari waktu ke waktu. Mereka yang telah bersama dengan pasangan selama kurang dari 15 tahun kurang merasa puas secara seksual, tetapi kepuasan meningkat secara signifikan setelah menikah selama 15 tahun.

"Mungkin perempuan menjadi lebih puas dari waktu ke waktu karena harapannya berubah atau mengalami perubahan dalam kehidupannya seiring perkembangan anak-anak. Di sisi lain, mereka yang tidak begitu puas secara seksual mungkin tidak mempertahankan pernikahan begitu lama," kata Heiman seperti dilansir Health.com, Rabu (28/12/2011).

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Sexual Behavior ini menerangkan bahwa laki-laki Jepang mengaku merasa 2,6 kali lebih puas secara seksual daripada laki-laki Amerika, sedangkan perempuan Jepang dan Brasil lebih puas secara seksual dibandingkan perempuan Amerika.


(ir/ir

Tes Darah Baru Dapat Deteksi Serangan Jantung Lebih Cepat

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)
Hamburg, Jerman, Sebuah tes darah baru dapat mengukur kadar troponin I dalam darah. Pengukuran kadar troponin I dapat membantu menentukan pasien benar-benar mengalami serangan jantung lebih awal dibandingkan tes diagnostik yang digunakan selama ini.

Troponin I adalah protein yang dilepaskan ke dalam aliran darah ketika otot jantung telah rusak seperti selama serangan jantung. Jika terdapat kerusakan pada jantung, maka troponin akan lebih banyak dalam darah.

Terdapat tes untuk mengukur troponin T atau troponin I. Studi baru telah dilakukan untuk melihat jenis yang sangat sensitif dari tes troponin yang mungkin lebih akurat dalam waktu cepat. Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam Journal of American Medical Association edisi 28 Desember 2011.

Peneliti yang dipimpin oleh Dr Till Keller di University Heart Center, Hamburg, Jerman, membandingkan uji troponin baru yang sangat sensitif dengan uji saat ini dan tes darah lainnya untuk serangan jantung.

Penelitian tersebut telah melibatkan sejumlah 1.818 orang yang menunjukkan gejala serangan jantung. Dari jumlah tersebut, 413 orang dianggap mengalami serangan jantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tes troponin lebih prediktif dari biomarker lain yang digunakan untuk membuat diagnosa.

Uji baru tersebut lebih sensitif daripada yang telah ada selama ini. Hal tersebut berarti bahwa jika hasil tes adalah negatif, pasien tersebut tidak mengalami serangan jantung.

Masalah dengan pengujian troponin yang ditemukan adalah bahwa tes tersebut harus diulang dua kali lagi selama 12-16 jam berikutnya untuk pembacaan yang akurat. Tes baru memberikan hasil yang sensitif setelah 3 jam.

"Kita dapat mengesampingkan diagnosa serangan jantung lebih cepat dengan tes baru. Jika pasien dibawa ke ruang gawat darurat kurang dari 3 jam setelah mengalami gejala nyeri dada, maka dapat membuat diagnosa serangan jantung," kata Dr Sandra Chaparro, seorang ahli jantung di University of Miami Hospital, Florida seperti dilansir dari MSNHealth, Rabu (28/12/2011).

Banyak orang datang ke ruang gawat darurat dengan keluhan nyeri dada. Biasanya, dokter akan melakukan prosedur pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) untuk memeriksa masalah dengan aktivitas listrik jantung, bersama dengan kerja darah.

Tidak semua bacaan EKG abnormal selama serangan jantung. Sehingga hal tersebut menjadi alasan yang kuat mengapa tes darah baru tersebut memang harus digunakan.

"Tes darah baru tersebut akan sangat berguna untuk mendiagnosa serangan jantung pada orang yang dibawa ke ruang gawat darurat dengan keluhan nyeri dada, namun hasil pemeriksaan EKG menunjukkan hasil negatif. Sebuah tes yang lebih sensitif dapat menghemat banyak uang," kata Dr. Chaparro

Tujuan utamanya adalah tes yang sangat spesifik dan sensitif yang dapat memberitahu dokter segera untuk mendiagnosa serangan jantung pada pasiennya.

"Kita perlu tes darah untuk dapat segera mendiagnosa dan memberitahu pasien ketika mereka mengalami perkembangan yang mengarah pada serangan jantung. Karena semakin cepat mendiagnosa, maka akan semakin cepat melakukan terapi yang paling tepat," kata Dr Michael Lanigan, seorang dokter di SUNY Downstate Medical Center, Brooklyn, New York.

(ir/ir