Kamis, 25 Agustus 2011

Alasan Perempuan Tak Suka Bercinta Pakai Kondom

Your browser does not support iframes.



foto: ThinkstockJakarta, Saat berhubungan seks dengan pasangan yang berisiko, kondom cukup efektif melindungi perempuan dari penularan penyakit. Namun pada usia tertentu, perempuan lebih menikmati bercinta tanpa kondom dengan berbagai alasan sebagai berikut.

Salah satu alasan yang terungkap dalam sebuah survei di Australia adalah karena pesan-pesan kesehatan reproduksi tidak menjangkau perempuan dewasa. Berbagai penyuluhan tentang seks yang aman lebih banyak ditujukan pada generasi muda, karena dianggap lebih berisiko.

"Kemungkinan para perempuan yang sudah tua sudah bukan 'generasi kondom'. Karena itu program keluarga berencana mulai diarahkan untuk menjangkau perempuan berusia 40 tahun ke atas," ungkap Deborah Bateson, aktivis keluarga berencana di New South Wales seperti dikutip dari News.com.au, Kamis (25/8/2011).

Alasan berikutnya adalah kurangnya pemahaman bahwa kondom bukan sekedar alat kontrasepsi, sehingga fungsi kondom dianggap semata-mata hanya untuk mencegah kehamilan. Kebanyakan perempuan dewasa yang sudah menopause merasa tidak mungkin hamil, sehingga tidak butuh memakai kondom.

Padahal menurut Bateson, kondom juga berfungsi sebagai alat pelindung dari penularan berbagai jenis Infeksi Menual Seksual (IMS). Risiko penularan penyakit seperti HIV/AIDS, raja singa atau sifilis serta kencing nanah atau gonorrhea bisa dikurangi dengan kondom.

Menurut survei terbaru yang dilakukan badan keluarga berencana di New South Wales, perempuan mulai tidak tertarik untuk hubungan seks dengan menggunakan kondom setelah memasuki usia 40 tahun. Makin tua, kesadaran untuk melindungi diri dari IMS makin rendah.

Survei tersebut dilakukan terhadap 1.788 perempuan dewasa yang terjading melalui berbagai situs jejaring sosial pada Februari 2009. Sebanyak 62 persen dari seluruh partisipan merupakan perempuan dewasa yang usianya sudah mencapai 40 tahun ke atas.



(up/ir

Dokter Bedahnya Ceroboh yang Diangkat Bukan Tumor Tapi Otak

Your browser does not support iframes.



John Tunney (Coventrytelegraph)London, Kecerobohan dalam operasi pengangkatan tumor di kepala berakibat fatal. Seorang pasien kehilangan sebagian otak yang berfungsi sebagai pusat penglihatan serta daya ingat, karena dokter mengiranya sebagai tumor lalu mengeluarkannya.

Parahnya lagi, setelah kondisi pasien membaik barulah diketahui bahwa tumor tersebut sebenarnya tidak perlu dioperasi. Pemberian obat-obat kemoterapi sudah cukup untuk mengontrol kondisi pasien, karena tumornya tidak terlalu ganas dan belum menyebar.

Meski kondisinya sudah membaik, pasien bernama John Tunney tersebut harus menderita cacat permanen di otaknya. Kemampuan melihatnya rusak sebagian, sedangkan ingatannya juga banyak yang terhapus sehingga mengalami amnesia atau hilang ingatan.

Pria 63 tahun asal Coventry, Inggris Tengah ini menjalani operasi otak tersebut pada tahun 2008 di University Hospital. Meski cacat permanen, kondisinya saat ini memang lebih baik dibandingkan usai dioperasi ketika otaknya mengalami perdarahan parah.

"Kerusakan otak John telah menghancurkan hidupnya. Sebelumnya dia orangnya santai dan sangat aktif. Sangat mengecewakan melihat ia berubah karena kesalahan yang tidak semestinya terjadi," ungkap istri John, Pamela seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (25/8/2011).

Bagian otak yang diangkat dalam operasi tersebut sebenarnya tidak terlalu banyak karena baru akan digunakan untuk keperluan biopsi atau pemeriksaan jaringan. Namun bukan jaringan tumor yang terangkat, dokter bedah justru mengambil jaringan sehat dari otak John.

Baru setelah jaringan tumor yang sesungguhnya diambil, dokter menyimpulkan bahwa sebenarnya tumornya tidak perlu diangkat. Tumor yang belum terlalu ganas itu masih bisa dijinakkan dengan obat-obat kemoterapi, sehingga tidak perlu ada operasi pengangkatan.

Melalui pengacaranya, John dan keluarganya berniat mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan. Apalagi pihak rumah sakit telah mengakui terjadinya kesalahan prosedur dan sudah meminta maaf.



(up/ir

Kista Ovarium Tidak Menyebabkan Kanker

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Ovarium adalah organ reproduksi perempuan untuk menghasil sel telur (ovum). Selama ini kista yang terdapat di ovarium sering dituding sebagai penyebab kanker ovarium. Tapi nyatanya, kista di ovarium bukan pemicu kanker ovarium.

Kalau pun ada kejadian perempuan terkena kanker ovarium setelah sebelumnya menderita kista ovarium itu dianggap hanya kebetulan.

"Data kami menunjukkan bahwa kista yang terdeteksi melalui pemeriksaan USG tampaknya tidak berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium primer atau invasif yang bergantung dengan hormon, seperti halnya kanker payudara dan endometrium," ujar Dr. Usha Menon dari University College London seperti dikutip Reuters, Kamis (25/8/2011).

Peneliti menemukan kista ovarium yang sering disebut kista inklusi ini tidak berisiko tinggi terhadap kanker ovarium, payudara atau endometrium. Hasil penelitian ini dapat menjadi bukti yang menentang kepercayaan lama bahwa kista atau kantung yang berisi cairan atau jaringan lunak itu sebagai pemicu kanker.

Menurut American Cancer Society, sekitar 1 dari 71 wanita mengidap kanker ovarium. Setengah dari kasusnya terjadi setelah usia 60 tahun. Data laporan dari UK Collaborative Trial of Ovarian Cancer Screening menulis lebih dari 200.000 wanita berusia 50 hingga 74 tahun di Inggris mengidap kanker ovarium.

Sekitar setengah dari mereka melakukan ujian screening USG secara berkala. Pada tahun pertama, screening mengidentifikasi 1.234 wanita dengan kista inklusi, dan 22.914 wanita dengan ovarium normal, menurut laporan tersebut.

Setelah rata-rata enam tahun ternyata penderita kanker ovarium yang terbanyak bukan berasal dari penderita kista ovarium. Hanya 4 wanita dengan kista (atau sekitar 5 orang dalam 1.000 orang wanita) yang terkena kanker ovarium sedangkan 32 wanita dengan ovarium normal (sekitar satu dari 1.000 orang wanita) justru lebih banyak mengidap kanker ovarium.

Meskipun hal ini (kista ovarium) menunjukkan peningkatan risiko, uji statistik menunjukkan bahwa hal itu bisa saja terjadi hanya karena kebetulan. Menurut peneliti, risiko untuk jenis kanker tertentu pada wanita yang memiliki kista yang lain juga tidak lebih tinggi.
 


(ir/ir

Penyakit Manusia Kebanyakan Akibat Penyalahgunaan Antibiotik

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Antibiotik seharusnya obat yang tidak boleh dijual bebas, tapi nyatanya saat ini banyak disalahgunakan. Akibatnya kebanyakan penyakit pada manusia akibat penyalahgunaan antibiotik.

Tubuh manusia mengandung sejumlah besar mikroba yang baik atau jahat. Tapi memberantasnya baik secara sengaja atau tidak sengaja dengan antibiotik bisa membahayakan kesehatan.

"Terlalu sering menggunakan antibiotik bisa memicu peningkatan drastis dari diabetes tipe 1, obesitas, penyakit radang usus, alergi dan asma yang meningkat 2 kali lipat di dalam populasi," ujar Martin Blaser, profesor mikrobiologi dan ketua departemen kedokteran New York University Langone Medical Center, seperti dikutip dari LiveScience, Kamis (15/8/2011).

Manusia kadang disebut dengan meta-organism karena jumlah dan volume mikroba yang banyak di berbagai bagian tubuh, seperti yang hidup di dalam usus, kulit atau bahkan pusar. Mikroba ini membantu akses nutrisi, mencegah infeksi berbahaya serta gangguan autoimun lainnya.

Tapi penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak tepat, justru bisa mengurangi jumlah bakteri baik dan membuat mikroba resisten. Hal ini karena antibiotik bersama dengan perubahan cara hidup bisa mengubah komunitas mikroba yang hidup di berbagai tubuh.

Studi tahun 2010 menemukan bahwa antibiotik menyebabkan perubahan yang cepat dan mendalam pada populasi mikroba, termasuk datangnya mikroba yang resisten terhadap antibiotik dan bisa bertahan setidaknya selama 3 tahun.

Diketahui pula bahwa antibiotk yang berlebih bisa mengaktifkan bakteri Clostridium difficile yang sudah ada pada beberapa orang sehat dan menyebabkan infeksi peradangan.

"Kita memiliki flora yang sangat kompleks dalam situasi sehat, yaitu menjaga sel T pro-inflamasi dan anti-inflamasi dalam keseimbangan satu sama lain. Tapi jika sudah terjadi ketidakseimbangan akan membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit," ujar Dennis Kasper selaku profesor mikrobiologi dan imunologi dari Harvard Medical School.

Untuk itu Blaser menyarankan agar menggunakan antibiotik secara lebih bijaksana, mengembangkan teknik yang cepat mengidentifikasi patogen bermasalah serta menciptakan obat yang bisa menargetkan patogen tertentu dan tidak menghancurkan mikroba lainnya.



(ver/ir

Pria DE Lebih Banyak yang Sulit Orgasme Ketimbang Ejakulasi

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Disfungsi ereksi (DE) membuat fungsi atau kemampuan penis untuk ejakulasi menjadi terhalang. Meski begitu pria dengan DE masih lebih bisa melakukan ejakulasi ketimbang orgasme.

Orgasme dan ejakulasi adalah dua hal yang berbeda meski kadang beberapa pria mengalaminya secara bersamaan. Orgasme adalah sensasi nikmat yang dirasakan pria sebelum air mani keluar saat ejakulasi.

Nah, pada pria DE ejakulasi masih bisa terjadi meskipun ada yang terlalu cepat (ejakulasi dini) dan ada yang terlalu lama (ejakulasi terhmbat). Tapi meski bisa melakukan ejakulasi, pria DE mengeluhkan sulitnya mengalami sensasi orgasme.

Sebuah studi baru menemukan bahwa 65 persen pria DE tidak bisa mengalami orgasme dan sekitar 58 persen memiliki masalah dengan ejakulasinya.

Penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan dan dokter dari New York Presbyterian Hospital/Weill Cornell Medical Centre melibatkan 12.130 pria dengan DE baik DE kategori ringan hingga berat. Lalu peneliti akan menganalisis kemampuan orgasme serta ejakulasinya.

"Meskipun obat seperti Viagra dan Cialis telah berhasil membantu orang-orang ini, tapi ternyata ada masalah seksual lain yang belum bisa terselesaikan," ujar ketua studi Dr Darius Paduch dari New York Presbyterian Hospital/Weill Cornell Medical Centre, seperti dikutip dari Indiavision, Kamis (25/8/2011).

Dalam beberapa dekade terakhir, peneliti hanya berfokus pada kekakuan penis. Tapi sebenarnya masih banyak pasien yang mengatakan bahwa masalah seksualnya tidak hanya sebatas itu tapi juga melibatkan kondisi lain seperti penurunan sensasi atau volume orgasme.

"Parahnya ejakulasi dan orgasme merupakan disfungsional yang berhubungan dengan tingkat keparahan disfungsi ereksi. Masalah ini cukup mengejutkan bagi orang dengan disfungsi ereksi ringan," ujar Dr Paduch.

Sebesar 26 persen orang dengan disfungsi ereksi ringan mengalami penurunan orgasme dan 18 persen mengalami disfungsi ejakulasi. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam British Journal of Urology International.

Disfungsi ereksi adalah kegagalan laki-laki dalam memulai atau mempertahankan ereksi sampai batas yang diperlukan oleh kedua pasangan untuk mencapai kepuasan seksual. Penyebabnya bisa akibat kelainan pembuluh darah, kelainan saraf, obat-obatan, kelainan pada penis atau masalah psikis yang mempengaruhi gairah seksual.




(ver/ir

Shock Karena Sahabatnya Meninggal, si Gadis Ikut Meninggal

Your browser does not support iframes.



Yasmina (dok: Dailymail)West Sussex, Kematian seseorang yang dekat bisa berdampak serius bagi orang lain. Seperti yang terjadi pada gadis Yasmina yang meninggal setelah mengetahui sahabatnya yang sama-sama menderita cystic fibrosis meninggal. Yasmina meninggal bukan karena penyakitnya tapi akibat kesedihan yang mendalam.

Yasmina Sugliano (25 tahun) mengalami serangan panik setelah mendengar sahabatnya Portia Jones (23 tahun) meninggal karena tidak kuat melawan penyakit yang dideritanya.

"Dia sangat terkejut mendengar hal tersebut hingga jantungnya tidak beraturan dan berbahaya. Kami tidak tahu persis bagaimana ia meninggal, tapi perawat mengatakan bahwa kesedihan yang dialaminya mendasari masalah jantungnya," ujar Ibunda Yasmina, Kay Sugliano, seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (25/8/2011).

Saat kejadian, petugas medis berusaha menyelamatkan Yasmina selama 30 menit, tapi mahasiswa seni kreatif di London University ini tidak bisa bertahan. Ia meninggal beberapa jam setelah kematian sahabatnya.

Kedua gadis ini bertemu dua tahun lalu ketika keduanya sama-sama menjalani perawatan untuk cystic fibrosis di rumah sakit. Sebelum meninggal Portia baru saja menikah dan berada dalam daftar tunggu transplantasi paru-paru ganda, sedangkan Yasmina berada di rumah sakit karena dicurigai mengalami infeksi dada.

"Keduanya benar-benar saling memahami lebih dari orang lain, karena tahu bagaimana hidup dengan cystic fibrosis. Ketika salah satu ada yang merasa down maka yang satu akan memberikan semangat. Keduanya pun saling mencintai dan berbicara tentang semua hal yang dilakukannya," ujar Kay.

Cystic fibrosis yang dimiliki Yasmina mempengaruhi organ internalnya terutama paru-paru dan sistem pencernaan karena tersumbat oleh lendir. Kondisi ini membuat pasien sulit bernapas dan mencerna makanan.

Namun Kay menuturkan bahwa putrinya kemungkinan bukan meninggal karena cystic fibrosis, karena fungsi paru-paru Yasmina diketahui lebih baik dibanding sebelumnya di tahun lalu.

Cystic fibrosis merupakan kelainan bawaan yang bisa memicu kerusakan paru-paru dan kekurangan nutrisi. Kelainan ini antara lain ditandai dengan produksi lendir yang kental dan lengket di pankreas dan terutama paru-paru.

Gejala yang umumnya muncul pada penderita cystic fibrosis adalah batuk terus menerus, napas sesak, infeksi paru-paru yang berulang, infeksi sinus yang berulang serta berat badan dan pertumbuhan badan rendah.

Meski begitu sejak kecil Yasmina diketahui menderita cacat jantung yang dikenal sebagai dilated cardiomyopathy. Kondisi ini membuat ia memiliki dinding otot jantung yang tipis sehingga sulit bagi jantung untuk memompa darah secara efisien.

Dilated cardiomyopathy umumnya tidak selalu menimbulkan gejala, tapi kondisi ini bisa mengancam nyawa karena jadi penyebab umum dari gagal jantung, ketidakmampuan jantung untuk memasok darah yang cukup ke organ dan jaringan di tubuh sehingga menyebabkan denyut jantung tak beraturan, gumpalan darah atau kematian mendadak.



(ver/ir

Satu Obat Antivirus Diklaim Bisa Atasi Berbagai Infeksi

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Bayangkan mengambil satu pil tapi dapat menyembuhkan hampir semua infeksi virus. Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat mengklaim telah mengembangkan obat yang sejauh ini dapat membunuh banyak virus yang sudah diuji secara laboratoris.

Seperti dilansir dari VOANews, Kamis (25/8/2011), obat yang dikenal dengan singkatan DRACO, mengandung bahan kimia yang dapat bekerja dengan menyerang sel virus yang terinfeksi dan menyebabkan sel virus dapat merusak diri.

Ketika virus menginfeksi sel-sel hewan, virus memasukkan potongan-potongan inti genetik berupa helai asam nukleat kompleks yang disebut RNA yang mengatur fungsi sel dengan beralih gen atau mati. RNA virus merupakan untai tunggal RNA dalam sel hewan untuk membentuk molekul yang unik disebut double-stranded RNA.

"Dengan terbentuknya untai ganda molekul RNA, Draco dapat masuk ke dalam sel yang terinfeksi virus," kata Todd Rider, seorang ilmuwan senior di MIT’s Lincoln Laboratory, dimana DRACO dikembangkan.

Rider mengatakan bahwa ketika DRACO mendeteksi sel dengan double-stranded RNA, maka obat ini akan mengaktifkan sel yang disebut sel 'bunuh diri'. Sel-sel manusia memang diprogram untuk merusak diri sendiri jika sel-sel tersebut mulai tumbuh di luar kendali.

"Jika sebuah sel berubah menjadi sel kanker, sel tersebut akan mencoba untuk membunuh dirinya sendiri," kata Rider. Cara kerja obat DRACO adalah dengan mengaktifkan saklar sel bunuh diri disetiap RNA untai ganda. Jadi, obat ini akan dapat membunuh setiap sel yang terinfeksi virus.

"DRACO telah berhasil diuji dalam piring petri terhadap 15 virus yang menyebabkan segala gejala dari pilek. Sejauh ini DRACO telah dapat menyembuhkan pilek, yaitu empat strain yang berbeda dari rhinovirus," kata Rider.

DRACO juga dapat digunakan untuk menyembuhkan influenza H1N1, yang merupakan dua strain yang berbeda. DRACO juga telah dapat menyembuhkan virus yang menyebabkan sakit perut, virus polio, berbagai adenovirus DNA, demam berdarah dengue dan beberapa jenis arenavirus dan bunyavirus. Infeksi arenavirus dan bunyavirus dapat menyebabkan radang otak.

"DRACO juga akan diujicobakan pada virus HIV," kata Rider. Sebuah obat antivirus spektrum luas yang bekerja melawan HIV dapat sangat berguna karena beberapa orang dapat mengalami resistensi terhadap obat anti-retroviral (ARV).

Anthony Fauci, direktur US Institute of Allergy and Infectious Diseases, setuju bahwa mungkin DRACO berpotensi bekerja melawan virus HIV. Namun Fauci mengatakan, bahwa berbagai obat yang efektif juga telah tersedia untuk mengobati HIV. Sehingga obat ini akan lebih berguna untuk melawan infeksi virus yang belum memiliki obat yang baik.

Fauci mengatakan dalam penelitian sekarang ada kecenderungan mikroba yang memungkinkan dapat menangkap semua obat seperti vaksin flu universal yang akan melindungi terhadap semua strain influenza. Sedangkan DRACO mempunyai potensi dapat menghilangkan semua jenis infeksi virus.

"Semakin banyak mempelajari mengenai dasar-dasar fundamental dari biologi virus, biologi bakteri, dan biologi mikroba lainnya, semakin banyak peluang dapat mengembangkan antivirus dengan spektrum luas," kata Fauci.

Rider memprediksi perlu satu dekade lagi untuk menunggu DRACO siap untuk penggunaan umum. Penelitian yang menjelaskan sifat antivirus obat DRACO telah diterbitkan dalam jurnal PLoS One.

 






(ir/ir