Jumat, 02 September 2011

Kecanduan Obat Nyeri Akibat Penyakit Ereksi yang Berjam-jam

Your browser does not support iframes.




Foto: Thinkstock
New York, Pada kebanyakan orang, obat-obat pereda nyeri tidak memicu kecanduan. Namun bagi seorang pria penderita priapism atau ereksi yang terlalu keras, pereda nyeri jadi makanan sehari-hari sehingga jadi kecanduan meski sebenarnya sudah sembuh.

David Miller, pria 30 tahun asal New York mengalami priapism atau ereksi yang berlebihan. Selain terlalu keras, durasi ereksinya seringkali tidak masuk akal karena alat kelaminnya bisa tetap tegang hingga berjam-jam sejak menerima rangsang seksual.

"Anak saya punya penyakit langka yakni priapism, yang artinya dia bisa mengalami ereksi selama 5-6 jam dan itu sangat menyakitkan," ungkap Tommy Miller (57 tahun), ayah David seperti dikutip dari News.com.au, Sabtu (3/9/2011).

Tommy menambahkan, kondisi ini dialami David sejak masih remaja dan masih sering kambuh hingga sekarang. Menurut dokter, gangguan ereksi yang berlebihan tersebut dipicu oleh kekurangan hormon tertentu yang berhubungan dengan rangsang seksual.

Kondisi ini menyebabkan sakit yang luar biasa setiap kali David mengalami ereksi dan hanya bisa diatasi dengan obat yang diresepkan oleh dokternya. Obat yang dipakai David adalah oxycodone, sejenis pereda nyeri yang termasuk dalam golongan narkotika.

Seperti narkotika pada umumnya, salah satu efek samping obat ini adalah menyebabkan kecanduan. Karena David mengonsumsi obat ini hampir setiap hari saat masih remaja, kini iapun merasakan efek samping tersebut dan seperti tidak bisa hidup tanpa obat.

Sayangnya David tidak punya cukup uang untuk membeli obat yang sebenarnya saat ini sudah tidak terlalu dibutuhkannya. Namun karena saraf otaknya sudah terporgram untuk selalu merasa butuh meminum oxycodone, iapun melakukan segala cara untuk mendapatkan uang.

Terakhir, ia berusaha merampok rumah Tommy, ayahnya sendiri di Manhattan dengan menodongkan pisau. Drama perampokan yang terjadi sekitar bulan Agustus 2011 tersebut tidak berlangsung lama karena Tommy segera menghubungi polisi dan akhirnya David dijebloskan ke penjara.

Priapism sendiri merupakan gangguan ereksi yang namanya diambil dari nama dewa kesuburan dalam mitologi Yunani, Priapus. Sesuai penggambaran Priapus yang punya kemaluan besar dan selalu dalam kondisi ereksi, penderita priapism juga memiliki penis yang selalu tegang pada saat-saat yang tak terduga sekalipun tidak ada hasrat dan rangsangan seksual.

Kondisi ini sering dipicu oleh overdosis obat-obat perangsang seperti viagra (sildenafril). Bisa juga dipicu oleh cedera sumsum tulang belakang, lalu menyebabkan aliran darah terkonsentrasi di suatu organ salah satunya alat kelamin yang secara anatomis letaknya cukup rendah untuk dialiri darah.



(up/ir

Orang Stres Giginya Lebih Cepat Ompong

Your browser does not support iframes.




Foto: Thinkstock
Jakarta, Kondisi mental dan kejiwaan seseorang juga dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Seseorang yang memiliki masalah kejiwaan alias stres 3 kali lebih berisiko mengalami gigi tanggal dan 6 kali lebih rentan mengalami gigi keropos.

Para ilmuwan dari University of Queensland mengungkap hal itu setelah menganalisis 14 hasil penelitian yang dilakukan dalam 20 tahun terakhir. Hampir semuanya menunjukkan hubungan yang konsisten antara risiko gigi tanggal dengan kesehatan mental.

Dari sekitar 2.784 partisipan yang terlibat dalam penelitian tersebut, bebagai masalah kejiwaan terbukti meningkatkan risiko ompong atau kehilangan seluruh giginya hingga 3,4 kali lipat. Sedangkan risiko gigi berlubang maupun tanggal sebagian meningkat 6,2 kali lipat.

Orang-orang dengan masalah kejiwaan baik berupa gangguan bipolar, schizophrenia maupun pikun lebih rentan kehilangan sebagian giginya karena tanggal. Hal ini menyiratkan bawah para dokter yang menangani pasien seperti ini bharus memberi perhatian terhadap kesehatan gigi mulut.

Menurut Prof Steve Kesley yang memimpin penelitian ini, ada beberapa hal yang membuat orang-orang stres lebih rentan mengalami gigi ompong. Faktor pertama adalah kurangnya kesempatan bagi para pasien untuk merawat dan menjaga kebersihan gigi dan mulut.

Berbagai masalah kejiwaan berhubungan juga dengan masalah tempat tinggal, dalam arti cenderung tidak betah berada di rumah. Karena jarang pulang, maka orang-orang stres lebih sedikit punya waktu untuk memberi perhatian lebih pada kebersihan giginya.

Faktor lain yang juga berpengaruh adalah efek samping pengobatan, karena beberapa obat antidepresan dapat menekan produksi air liur. Jika produksi air liur berkurang, kondisi kesehatan gigi juga ikut menurun sehingga mudah keropos dan tanggal.

"Mereka juga cenderung tidak mau bertemu dengan dokter gigi karena takut dengan perawatannya. Bisa juga karena khawatir dengan biayanya yang bisa bikin tambah stres," ungkap Prof Kisley dalam laporannya dalam British Journal of Psychiatry sperti dikutip dari Medicalnewstoday, Sabtu (3/9/2011).



(up/ir

Tipe Orang yang Berisiko Kena Gangguan Hasrat Seksual

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstok)
Jakarta, Beberapa orang kadang tidak berminat untuk melakukan hubungan seks. Tapi jika kondisi ini terjadi terus menerus maka bisa dicurigai mengalami gangguan hasrat seksual hypoactive. Siapa saja yang berisiko?

Hypoactive Sexual Desire Disorder (HSDD) adalah gangguan kurangnya hasrat seksual terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Orang dengan gangguan ini sama sekali tidak memiliki kecenderungan terhadap aktivitas seksual, bahkan cenderung menolak segala stimulasi yang diberikan.

HSDD lebih sering ditemukan pada perempuan dibanding dengan laki-laki yaitu sekitar 2 kali lipatnya. Perempuan dengan HSDD akan mengalami sangat stres dan sulit terlibat dalam hubungan seks.

Umumnya dokter akan mendiagnosis seseorang dengan HSDD jika tidak ditemukan adanya masalah kesehatan mental atau fisik yang berkontribusi menurunkan keinginan seksualnya.

Berikut ini adalah orang-orang yang berisiko mengalami HSDD, seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (2/9/2011) yaitu:

1. Memiliki hubungan yang tidak bahagia dengan pasangan
Hubungan ini akan menciptakan konflik terus menerus yang bisa mempengaruhi hasrat seksual, lama kelamaan akan membuat hasrat seksual tersebut menjadi hilang. Terlebih komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan hubungan seksual yang harmonis.

2. Gaya hidup
Perempuan diharuskan bisa melakukan banyak pekerjaan (multitasking) sehingga memiliki tanggung jawab yang besar. Gaya hidup seperti ini akan membuat seseorang menjadi kelelahan dan stres yang ujungnya akan menurunkan hasrat seksualnya.

3. Adanya gangguan pada saat pubertas
Hingga kini belum diketahui apa penyebabnya, tapi adanya gangguan pada pubertas bisa menyebabkan seseorang mengalami HSDD lebih dini yang membuatnya mengalami apatis terhadap seks seumur hidupnya.

4. Depresi tingkat rendah yang seringkali tidak terdiagnosis
Perempuan sangat sering menderita depresi rendah yang dikenal dengan dysthymia. Kondisi ini seringkali tidak diakui dan terdiagnosis karena masih membuat seseorang mampu bekerja dengan baik. Tapi salah satu dampak yang jelas terlihat adalah kehilangan nafsu seksualnya.

5. Perempuan yang akan mengalami menopause
Menopause akan membuat produksi hormon estrogen, progesteron dan testosteron menurun yang berdampak pada rendahnya dorongan seksual, sehingga salah satu tanda akan datangnya menopause adalah kehilangan hasrat seksual.

HSDD yang dialami harus ditangani dengan baik agar tidak merusak hubungan yang ada. Pengobatan untuk HSDD ini bisa berhasil jika melibatkan kedua pasangan, seperti memperbaiki komunikasi atau melakukan terapi hormon dengan diberikan hormon testosteron. Sedangkan untuk HSDD yang seumur hidup jauh lebih sulit diobati.



(ver/ir

Kurang Tidur Bisa Sebabkan Hipertensi

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstok)
Jakarta, Setiap orang membutuhkan waktu tidur yang cukup, karena jika kurang akan berdampak bagi kesehatannya. Studi menemukan orang yang kurang tidur bisa mengalami tekanan darah tinggi.

Orang yang kekurangan tidur biasanya sering melakukan kesalahan dan merasa kesal di pagi hari. Ternyata konsekuensinya tidak hanya sebatas itu. Seiring waktu, orang yang sering kurang tidur bisa berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi.

Saat tidur seseorang akan mengalami fase gelombang otak yang dikenal dengan slow-wave sleep. Fase tidur ini dianggap restoratif dan telah terbukti penting untuk memori serta performa dari mental seseorang.

Studi yang melibatkan 784 partisipan ini menemukan orang-orang yang menghabiskan waktu slow-wave sleep kurang dari 4 persen memiliki peluang 83 persen lebih tinggi terkena tekanan darah tinggi (hipertensi).

"Hasil ini menunjukkan adanya aspek penting mengenai kualitas tidur dengan risiko tekanan darah tinggi, dan orang yang sudah tua cenderung kurang mendapatkan tahap slow-wave sleep seiring dengan bertambahnya usia," ujar Eve Van Cauter, direktur Sleep, Metabolism and Health Center di University of Chicago, seperti dikutip dari Healthland.Time, Jumat (2/9/2011).

Sebelumnya telah diketahui bahwa masalah tidur berkaitan dengan tekanan darah tinggi. Sleep apnea dan gangguan kronis membuat seseorang terbangun dan harus berjuang untuk menarik napas beberapa kali di malam hari, kondisi ini sangat terkait dengan peningkatan tekanan darah.

Dr Susan Redline yang ikut terlibat dalam studi ini dan profesor di Harvard Medical School menuturkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu orang tidur lebih lama dan lebih dalam seperti pergi dan bangun tidur di waktu yang sama, menghindari alkohol dan tembakau sebelum tidur serta membersihkan diri (sleep hygiene).

"Tapi hal yang paling penting untuk menghindari kekurangan waktu tidur adalah tidak adanya gangguan selama tidur seperti sleep apnea, mengorok atau gerakan kaki yang periodik," ujar Dr Redline.

Sedangkan tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi yang bisa menimbulkan berbagai macam komplikasi jika tidak tertangani dengan baik, terutama penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke.



(ver/ir

Kamis, 01 September 2011

Kurus Belum Tentu Kurang Makan, Bisa Juga Kelebihan Kromosom

Your browser does not support iframes.




Foto: Thinkstock
Jakarta, Punya tubuh kurus sering memberi kesan kurang gizi, padahal sebenarnya sudah makan dengan pola yang benar. Menurut penelitian, beberapa orang memang dilahirkan untuk kurus selamanya karena memiliki kelebihan gen yang disebut gen-16.

Normalnya, seseorang mewarisi komposisi gen yang sama dari kedua orangtuanya. Namun pada beberapa orang gen-gen tertentu bisa mengalami duplikasi sehingga jumlahnya menjadi 2 kali lebih banyak, maupun penghilangan sehingga komposisinya berkurang.

Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Imperial College London di Inggris dan University of Lausanne di Swiss mengungkap, komposisi gen bernomor 16 atau disebut gen-16 dapat mempengaruhi berat badan. Seseorang yang mengalami duplikasi gen tersebut akan tetap kurus meski banyak makan.

Sebaliknya pada orang yang kehilangan sebagian dari gen tersebut, berat badannya diyakini akan lebih mudah mengalami peningkatan meski pola makannya sama dengan yang lain. Akibatnya meski sudah berusaha diet, tubuhnya cenderung tetap kelihatan gemuk.

Penelitian yang melibatkan 95.000 orang tersebut mengungkap, duplikasi atau penggandaan gen-16 dialami oleh 1 dari 2.000 orang di seluruh dunia. Pada laki-laki, kondisi ini meningkatkan risiko underweight sebesar 23 kali lipat dan pada perempuan 5 kali lipat.

Underweight atau sangat kurus didefinisikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di bawah 18,5 kg/m2. Kebalikan dari underweight adalah overweight yakni jika IMT berada pada rentang 25-29 kg/m2 atau obesitas jika IMT telah melebihi angka 30 kg/m2.

Selain meningkatkan risiko underweight, duplikasi yang membuat komposisi gen-16 terlalu banyak juga berisiko memicu microcephalus atau bentuk kepala terlalu kecil. Karena kepalanya kecil, volume otak terbatas sehingga rentan mengalami kerusakan saraf dan harapan hidupnya rata-rata lebih pendek.

"Sekitar 25 persen orang kurus yang mengalami duplikasi gen-16 juga mengalami microcephalus," ungkap Philippe Froguel dari Imperial College London seperti dikutip dari Reuters, Kamis (1/9/2011).




(up/ir

Saat Bunuh Diri, Perempuan Masih Memikirkan Penampilan

Your browser does not support iframes.




Foto: Thinkstock
Jakarta, Bunuh diri biasanya dilakukan ketika seseorang benar-benar putus asa sehingga sudah tidak sanggup memikirkan apapun. Namun dibanding laki-laki, perempuan masih lebih sempat memikirkan satu hal sebelum mengakhiri hidup yakni penampilan.

Dikatakan demikian karena menurut penelitian, perempuan cenderung tidak ingin tampak mengenaskan jika suatu saat nanti jasadnya ditemukan. Karena itu saat melakukan bunuh diri dengan pistol, perempuan lebih jarang menembakkannya di bagian kepala atau wajah.

Saat bunuh diri, tembakan pistol ke arah wajah atau kepala 2 kali lebih sering dilakukan oleh laki-laki dibandingkan pada perempuan. Diyakini, hal ini dipicu oleh kecenderungan para laki-laki untuk tidak terlalu memikirkan penampilan, apalagi dalam kondisi putus asa.

Kecenderungan ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Valerie Callaran dari University of Akron dan Mark Davis dari Ohio State Unversity. Dikutip dari Medicalnewstoday, Kamis (1/9/2011), para kedua ilmuwan mengamati 621 catatan kasus bunuh diri di Ohio yang terjadi antara tahun 1997-2006.

Temuan lain yang terungkap dalam penelitian ini adalah kecenderungan untuk menembakkan pistol ke arah wajah dan kepala tak hanya dipengaruhi jenis kelamin tetapi juga tingkat stres. Makin tinggi tingkat stresnya, makin besar kecenderungan untuk membiarkan wajahnya hancur diterjang peluru.

Sementara dalam artikel detikHealth sebelumnya, psikiater dari Fakutlas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Suryo Dharmono, SpKJ(K) juga menyampaikan pendapat yang kurang lebih sama. Menurutnya, perempuan cenderung memilih cara bunuh diri yang kurang agresif sehingga kadang malah tidak berhasil.

"Percobaan bunuh diri pada perempuan 4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki, tapi keberhasilan bunuh diri lebih tinggi terjadi pada laki-laki," ungkap Dr Suryo.

Dr Suryo menambahkan, laki-laki cenderung menggunakan cara yang agresif untuk bunuh diri seperti loncat dari gedung, menusuk diri atau menembak kepala pistol. Dengan cara tersebut, peluang keberhasilannya lebih tinggi dibanding perempuan yang cenderung memilih bunuh diri dengan minum obat atau menyayat urat nadi.



(up/ir

Kurus Belum Tentu Kurang Makan, Bisa Juga Kelebihan Gen-16

Your browser does not support iframes.




Foto: Thinkstock
Jakarta, Punya tubuh kurus sering memberi kesan kurang gizi, padahal sebenarnya sudah makan dengan pola yang benar. Menurut penelitian, beberapa orang memang dilahirkan untuk kurus selamanya karena memiliki kelebihan gen yang disebut gen-16.

Normalnya, seseorang mewarisi komposisi gen yang sama dari kedua orangtuanya. Namun pada beberapa orang gen-gen tertentu bisa mengalami duplikasi sehingga jumlahnya menjadi 2 kali lebih banyak, maupun penghilangan sehingga komposisinya berkurang.

Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Imperial College London di Inggris dan University of Lausanne di Swiss mengungkap, komposisi gen bernomor 16 atau disebut gen-16 dapat mempengaruhi berat badan. Seseorang yang mengalami duplikasi gen tersebut akan tetap kurus meski banyak makan.

Sebaliknya pada orang yang kehilangan sebagian dari gen tersebut, berat badannya diyakini akan lebih mudah mengalami peningkatan meski pola makannya sama dengan yang lain. Akibatnya meski sudah berusaha diet, tubuhnya cenderung tetap kelihatan gemuk.

Penelitian yang melibatkan 95.000 orang tersebut mengungkap, duplikasi atau penggandaan gen-16 dialami oleh 1 dari 2.000 orang di seluruh dunia. Pada laki-laki, kondisi ini meningkatkan risiko underweight sebesar 23 kali lipat dan pada perempuan 5 kali lipat.

Underweight atau sangat kurus didefinisikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di bawah 18,5 kg/m2. Kebalikan dari underweight adalah overweight yakni jika IMT berada pada rentang 25-29 kg/m2 atau obesitas jika IMT telah melebihi angka 30 kg/m2.

Selain meningkatkan risiko underweight, duplikasi yang membuat komposisi gen-16 terlalu banyak juga berisiko memicu microcephalus atau bentuk kepala terlalu kecil. Karena kepalanya kecil, volume otak terbatas sehingga rentan mengalami kerusakan saraf dan harapan hidupnya rata-rata lebih pendek.

"Sekitar 25 persen orang kurus yang mengalami duplikasi gen-16 juga mengalami microcephalus," ungkap Philippe Froguel dari Imperial College London seperti dikutip dari Reuters, Kamis (1/9/2011).



(up/ir