Jumat, 01 Juli 2011

Perempuan Lebih Tahan Terhadap Flu Dibanding Laki-laki

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Queensland, Penyakit flu memang bisa menyerang siapa saja dan usia berapa pun. Tapi bila ada virus flu di udara, maka perempuan akan mampu untuk bertahan sedangkan laki-laki akan jatuh sakit terkena flu.

Peneliti dari Australia menemukan bahwa sukarelawan perempuan memiliki respon sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat terhadap rhinovirus, yaitu virus yang bisa menyebabkan flu biasa dibandingkan laki-laki. Kondisi ini memicu munculnya istilah man flu.

Hal ini dipengaruhi oleh hormon yang dimiliki kaum perempuan, sehingga membuat laki-laki lebih mungkin sakit jika terinfeksi virus tersebut. Tapi perlindungan terhadap perempuan akan hilang ketika ia memasuki menopause.

"Kami melihat ketika perempuan mencapai menopause, maka kemampuannya untuk menahan rhinovirus memudar. Jadi jelas terlihat bahwa hormon memainkan peran besar dalam membantu melawan virus," ujar Prof John Upham dari University of Queensland, seperti dikutip dari Telegraph, Jumat (1/7/2011).

Selama ini istilah 'man flu' hanya dianggap sebagai mitos belaka, tapi peneliti justru menemukan bahwa hal tersebut adalah nyata. Laki-laki memang lebih rentan dan mudah terkena flu dibanding perempuan.

Peneliti menyimpulkan studi ini menunjukkan bahwa perempuan pra-menopause memiliki respons imun adaptif yang lebih kuat terhadap infeksi rhinovirus daripada laki-laki dan orang yang sudah tua.

Dalam studi ini, peneliti memeriksa respons sistem kekebalan tubuh dari 63 partisipan yang sehat. Hasil studi ini juga telah dilaporkan dalam jurnal Respiratory Research.

Meskipun virus ini hanya akan mengganggu pada orang sehat, tapi jika menyerang orang yang memiliki penyakit asma atau penyakit paru-paru kronis bisa sangat mengganggu dan bahkan berbahaya.

(ver/ir

Cacing Pita di Sungai Mekong Menularkan Kanker

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Infeksi cacing parasit biasanya hanya membuat korbannya kurang gizi karena bisa mencuri nutrisi dari makanan yang dikonsumsi. Namun sejenis cacing pita di Thailand meresahkan warga setempat karena bisa memicu kanker di saluran empedu.

Cacing tersebut ditemukan di sepanjang Sungai Mekong yang mengalir di wilayah Thailand timur laut, melewati Vietnam, Laos, Kamboja, Korea dan China. Diduga cacing tersebut menginfeksi warga yang mengonsumsi ikan tanpa dimasak dengan matang.

Organisasi kesehatan dunia atau WHO memperkirakan 9 juta warga di sepanjang Sungai Mekong telah terinfeksi, sementara 67 juta lainnya terancam nasib yang sama. Jika tak segera diobati, warga yang terinfeksi akan mengalami kanker empedu atau cholangiocarcinoma beberapa tahun kemudian.

Pada orang yang terinfeksi cacing ini, kanker empedu akan berkembang ketika memasuki umur 40-50 tahun. Oleh karena itu, dinas kesehatan di beberapa wilayah tersebut menganjurkan warga mulai melakukan pemeriksaan tinja sejak memasuki umur 30 tahun.

"Warga yang berumur 30 harus periksa tinja, sedangkan yang berumur 40 tahun harus memeriksakan gejala kanker dengan ultrasonik," ungkap Pongsadhorn Pokpermdee dari dinas kesehatan Provinsi Nongbualanpoo, Thailand seperti dikutip dari Reuters, Jumat (1/7/2011).

Jika positif ditemukan ada tumor di saluran empedu, maka warga yang bersangkutan harus langsung dioperasi. Sementara jika belum ada kanker, cacing pita di dalam tubuhnya harus diusir dengan obat cacing yang diberikan gratis yakni Praziquantel.

Dibandingkan pada wanita, cacing ini lebih banyak menginfeksi warga berjenis kelamin pria dengan perbandingan 3:1. Waktu yang dibutuhkan sejak terinfeksi terjadi hingga munculnya kanker relatif lama yakni 10-20 tahun, namun seringkali tidak didahului gejala awal.

Warga di sepanjang Sungai Mekong, khususnya di Thailand gemar mengonsumsi makanan berbahan ikan mentah atau setengah matang yang dinamakan Koi-pla. Makanan khas Thailand ini juga populer di wilayah lain di Asia termasuk Hong Kong dan Singapura.

(up/ir

Permenkes Sunat Perempuan: Dilarang Potong Klitoris

Your browser does not support iframes.



foto: ThinkstockJakarta, Klitoris merupakan bagian dari alat kelamin perempuan yang bentuknya seperti kacang dan akan mengeras ketika menerima rangsang seksual. Kerusakan pada bagian ini bisa membuat gairah seks berkurang sehingga sulit mencapai orgasme klitoral saat berhubungan seks.

Menurut peraturan yang berlaku di Indonesia, tidak semua bagian pada alat kelamin perempuan boleh disunat. Salah satu bagian yang mutlak tidak boleh dilukai atau dirusak adalah klitoris, bagian paling sensitif terhadap rangsang seksual.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan, drg Murti Utami mengatakan sunat perempuan yang diatur dalam Permenkes No 1636/MENKES/PER/2010 tentang Sunat Perempuan berbeda dengan definisi Female Genital Mutilation (FGM) versi organisasi kesehatan dunia atau WHO.

"Permenkes Sunat Perempuan mengatur larangan menggunakan cara mengkauterisasi klitoris, yakni memotong atau merusak klitoris baik sebagian maupun seluruhnya," tulis drg Tami dalam rilis yang diterima detikHealth, Jumat (1/7/2011).

Bagian yang tidak boleh dilukai selain klitoris dalam Permenkes Sunat Perempuan adalah labia mayora (bibir luar), labia minora (bibir dalam), selaput dara maupun vagina secara keseluruhan.

Bagian yang diizinkan dalam sunat perempuan hanyalah berupa sayatan kecil pada kulit yang menutup klitoris tapi bukan klitorisnya.

Sementara dalam aturan WHO tidak boleh ada mutilasi dalam alat kelamin perempuan yang terbagi dalam 4 klasifikasi:


  1. Kategori pertama adalah pelarangan "prepuce" atau clitoridectomy, yakni pemotongan sebagian atau seluruh bagian klitoris.
  2. Kategori kedua adalah pelarangan pemotongan klitoris dan sebagian atau seluruh bagian pada labia mayora.
  3. Kategori ketiga, pelarangan sayatan atau pemotongan bisa dilakukan di seluruh bagain alat kelamin luar termasuk jahitan untuk mempersempit lubang vagina.
  4. Kategori keempat adalah pelarangan segala bentuk tindakan berbahaya mulai dari penusukan, pelubangan dan penggoresan terhadap bagian apapun pada alat kelamin perempuan. Seperti dikutip dari WHO.int, tindik vagina termasuk dalam FGM kategori keempat.

Aturan Permenkes sunat perempuan yang hanya membolehkan sayatan kecil pada kulit yang menutup klitoris tapi bukan klitorisnya memang agak berbeda dengan klasifikasi sunat perempuan WHO. Karena dalam WHO memang segala hal yang menyakiti kelamin perempuan dilarang. Tapi menurut Permenkes tersebut tindakan tersebut tidak menyalahi aturan mutilasi WHO.

Sunat perempuan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu, yaitu dokter, bidan dan perawat yang telah memiliki ijin praktik, atau surat izin kerja dan diutamakan yang berjenis kelamin perempuan.

Dalam melaksanakan sunat perempuan, tenaga kesehatan harus mengikuti prosedur tindakan antara lain cuci tangan pakai sabun, menggunakan sarung tangan, melakukan goresan pada kulit yang menutupi bagian depan klitoris (frenulum klitoris) dengan menggunakan ujung jarum steril sekali pakai dari sisi mukosa ke arah kulit, tanpa melukai klitoris.


(up/ir

Nyeri Dada Lebih dari 15 Menit, Waspadai Serangan Jantung

Your browser does not support iframes.



foto: ThinkstockJakarta, Meski bisa saja muncul tiba-tiba tanpa gejala, serangan jantung bisa juga didahului dengan keluhan nyeri dada. Segera cari pertolongan ke rumah sakit jika mendadak mengalami nyeri dada dan tidak hilang hingga lebih dari 15 menit.

Nyeri dada yang menandakan terjadinya serangan jantung biasanya dirasakan tepat di belakang tulang dada, atau dalam istilah medisnya retrosternal pain. Jenis nyerinya bervariasi, bisa seperti ditekan benda berat, diperas (squeezed) atau ditusuk-tusuk.

Meski pada setiap orang tidak selalu sama, kadang-kadang nyeri dada yang dirasakan sebelum terjadi serangan jantung juga bisa disertai gangguan napas hingga terasa sesak. Gejala lain yang sering menyertainya adalah keringat dingin dan kulit pucat.

"Jika nyeri dada berlangsung lebih dari 15 menit, waspadai serangan jantung. Apalagi kalau diketahui memang punya faktor risiko," ungkap ahli jantung dari RS Premier Jatinegara, Dr Pradana Tedjasukmana, SpJP dalam jumpa pers "Pfizer 3 Ring Peduli Kolesterol" di Senayan City, Jumat (1/7/2011).

Faktor risiko yang dimaksud Dr Tedja antara lain berat badan berlebih atau obesitas, punya kebiasaan merokok dan berusia 40 tahun ke atas. Selain itu, riwayat keluarga yang punya masalah jantung serta kelebihan kadar kolesterol juga turut meningkatkan faktor risiko.

Jika mengalami sendiri atau menemukan orang dengan gejala seperti itu, langkah yang paling tepat adalah membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin. Makin lama waktu yang terbuang, dikhawatirkan akan makin banyak otot jantung yang mengalami kerusakan.

Meski demikian, serangan jantung bisa juga muncul tiba-tiba tanpa didahului oleh nyeri dada. Diperkirakan 80 persen kasus serangan jantung yang menyebabkan kematian terjadi secara mendadak, 50 persen di antaranya tanpa didahului gejala yang spesifik.

Kelompok yang berisiko tinggi mengalami serangan jantung secara mendadak tanpa didahului gejala seperti disampaikan Dr Tedja adalah sebagai berikut.


  1. Lanjut usia (lansia), yakni di atas 72 tahun
  2. Ibu-ibu
  3. Punya riwayat diabetes melitus.
 


(up/ir

September 2011, Puskesmas Sudah Bisa Pakai Resep Elektronik

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Jika selama ini resep obat di sebagian besar Puskesmas masih dilakukan secara manual, maka per September 2011 seluruh Puskesmas di Indonesia akan memiliki layanan resep elektronik. Fasilitas ini dapat membantu dan sangat menghemat waktu bagi pasien maupun petugas kesehatan.

E-Prescription atau resep elektronik merupakan transmisi elektronik resep obat dari komputer pembuat obat ke komputer bagian farmasi. Ini merupakan komponen dari SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan Tingkat Kabupaten) elektronik (Puskesmas dan rumah sakit).

"Kita bisa masukkan semua aturan obat, jadi kalau ada dokter yang mungkin salah memberi resep atau kelebihan dosis itu bisa ada warning kalau salah," jelas dr Jane Soepardi, MPH, DSc, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, dalam acara media briefing 'Pengembangan & Penguatan Sistem Informasi Kesehatan' di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (1/7/2011).

Dengan berlakunya resep elektronik tersebut, maka banyak keuntungan yang dirasakan petugas kesehatan maupun pasien, antara lain:

  1. Mempercepat pelayanan pasien atau mengurangi waktu tunggu pasien (efisien)
  2. Menghindari kesalahan menulis dan membaca nama obat dan dosis obat
  3. Mencegah kemungkinan terjadinya alergi dan interaksi obat
  4. Memberikan peringatan terhadap obat-obat tertentu yang bisa menimbulkan reaksi merugikan
  5. Mempermudah pemantauan ketersediaan (stok) dan kebutuhan obat
  6. Mempromosikan pemakaian obat generik
  7. Menghemat tempat penyimpanan arsip
  8. Mempermudah analisis penyakit dan pemakaian obat.

"Jika dulu pasien harus berkali-kali antre di Puskesmas, antre periksa dan antre apotek, maka nantinya bisa menghemat waktu. Begitu pasien datang data administrasinya sudah tersambung ke dokter dan begitu dokter memberikan resep, resepnya langsung disampaikan ke apotek, jadi nanti pasien tinggal ambil saja tidak perlu antre lagi. Hemat waktu jadinya," jelas dr. Jane.

Resep elektronik hanyalah bagian kecil dari SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan Tingkat Kabupaten) elektronik, yaitu pusat data yang bisa diakses oleh semua Puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kabupaten. Dengan SIKDA elektronik, semua data administrasi dari seluruh Puskesmas tidak lagi ditulis secara manual tetapi sudah terkomputerisasi dan terhubung dengan satu jaringan wireless atau internet yang terpusat di kabupaten atau dinas kesehatan setempat.

"Untuk saat ini baru ada 40 persen kabupaten di Indonesia yang sudah memiliki SIKDA elektronik, namun pada September 2011 akan dibagikan SIKDA generik secara gratis kepada seluruh Puskesmas yang ada di Indonesia. Dan tahun 2012 diharapkan semua unit pelayanan baik Puskesmas dan RS, pemerintah maupun swasta sudah terjalin dengan SIKDA," lanjut dr Jane.

SIKDA sendiri mencakup berbagai pelayanan elektronik, tidak hanya resep elektronik (e-prescription), tetapi ada juga e-archive, e-radiologi, e-laboratorium dan lain-lain.

SIKDA secara keseluruhan juga memiliki manfaat, yaitu:

  1. Terhadap masyarakat
  2. Waktu tunggu pasien berkurang
  3. Mengurangi medical error
  4. Pelayanan kesehatan lebih efektif dan efisien

Terhadap penyelenggara pelayanan

  1. Mengurangi beban administrasi petugas kesehatan sehingga lebih banyak waktu untuk pasien
  2. Pembuat keputusan mempunyai informasi yang tepat dan cepat.

Sejak tahun 1990-an, sebenarnya ada banyak RS, kabupaten/kota dan provinsi yang sudah mengembangkan sendiri SIKDA. Inisiatif SIKDA elektronik yang sudah ada di Indonesia antara lain:

  1. Provinsi DIY
  2. Kab. Bantul
  3. Kab. Purworejo
  4. Kab. Ngawi
  5. kota Bandung
  6. Kota Jembrana, Bali
  7. Provinsi NTB
  8. Provinsi Aceh
  9. Kota Batam
  10. Kab. Padang Pariaman
  11. Kota Balik Papan
  12. Kota Tomohon
  13. Dan hampir semua RS tipe A, RS vertikal dan RS swasta

"Nantinya kalau sudah berlaku SIKDA elektronik, kalau RS atau kabupaten punya software sendiri yang lebih canggih itu boleh saja dipakai, asal datanya bisa tersambung ke SIKDA," ujarnya.

(mer/ir

Bahan Kimia dalam Produk Kosmetik Bisa Menaikkan Berat Badan

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)New York, Umumnya penyebab bertambahnya berat badan adalah akibat asupan kalori berlebih dan jarang berolahraga. Tapi studi menemukan bahan kimia dalam produk kosmetik kemungkinan berkontribusi menaikkan berat badan.

Penelitian terbaru menunjukkan bukan hanya pola makan dan olahraga yang mempengaruhi berat badan. Karena bahan kimia yang digunakan pada sebagian besar produk kosmetik bisa berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Dokter dari Mount Sinai Medical Center di New York menuturkan bahwa senyawa phthalates yang terkandung hampir di dalam 70 persen produk shampoo, kosmetik dan sabun bisa mengganggu endokrin dan sebisa mungkin sebaiknya dihindari.

Pada penelitian sebelumnya para ahli telah ditunjukkan bahwa bahan kimia bisa menyebabkan kerusakan di sistem yang secara alami mengendalikan berat badan seseorang. Peneliti menemukan senyawa pengganggu endokrin ini bisa meniru efek dari hormon yang mempengaruhi kerja kelenjar di tubuh.

"Bahkan jika zat ini memainkan peran yang kecil dalam proses obesitas, maka sebaiknya paparan tersebut dicegah," ujar Dr Maida Galvez, seorang dokter anak yang terlibat dalam studi ini, seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (1/7/2011).

Peneliti dari Stirling University di Skotlandia menyebut senyawa Bisphenol A dan phthalates sebagai 'chemical calories' atau bahan kimia yang dapat menyumbangkan kalori bagi tubuh.

Sementara itu Galvez menyarankan untuk menghindari paparan phthalate, konsumen sebaiknya memilih produk shampoo, kosmetik atau sabun yang tidak mengandung aroma (non-aroma) serta organik.

Studi mengenai bahan kimia yang bisa berkontribusi terhadap kenaikan berat badan memang masih terlalu dini. Karenanya perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana mekanismenya sehingga bisa menemukan cara pencegahan yang lebih efektif.

Fenomena obesitas saat ini memang tengah menjadi perdebatan karena angka kejadiannya telah meningkat secara signifikan, sehingga berbagai cara dilakukan untuk mencegah obesitas agar terhindar dari berbagai faktor risiko penyakit.

(ver/ir

Lomba Puskesmas Peduli Kanker Serviks

Your browser does not support iframes.



foto: ThinkstockJakarta, Puskesmas merupakan salah satu ujung tombak pencegahan serviks atau leher rahim. Untuk lebih memacu upaya skrining dan pencegahan, Inisiatif Pencegahan Kanker Serviks Indonesia (IPKASI) menggelar lomba Puskesmas Peduli Kanker Serviks.

Lomba ini akan diikuti oleh 44 Puskesmas tingkat kecamatan yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta dan akan dipilih satu Puskesmas yang paling aktif melakukan pencegahan kanker serviks. Puskesmas dipilih sebaga sasaran program ini karena bisa menjangkau kelompok masyarakat terkecil.

Selain lomba, dalam program ini juga akan digelar lokakarya tentang pencegahan kanker serviks yang akan diikuti oleh para kepala Puskesmas. Lokakarya akan diisi dengan mengenalkan program khusus bagi tenaga medis untuk menyediakan materi pendukung edukasi kanker serviks.

Salah seorang pendiri sekaligus anggota Dewan Komite IPKASI, Dr dr Laila Nuranna SpOG(K) mengatakan program ini diharapkan bisa membantu mencapai target cakupan pencegahan berupa skrining kanker serviks sebesar 80 persen di seluruh DKI Jakarta.

"Dari 1,7 juta perempuan penduduk Jakarta yang berisiko kami menargetkan pada tahun 2017 sebesar 80 persen atau 1,4 juta sudah dapat diskrining," ungkap Dr Laila dalam rilis yang diterima detikHealth, Jumat (1/7/2011).

Menurut data Dinkes DKI Jakarta, saat ini deteksi dini kanker serviks sudah bisa dilakukan di 14 Puskesmas tingkat kecamatan. Beberapa Puskesmas bahkan sudah bisa melakukan Cryoterapi, yakni terapi untuk mematikan kanker serviks bagi yang terdiagnosis poisitif.

Sementara jenis skrining yang bisa dilakukan di 14 Puskesmas tersebut umumnya berupa pap smear dan Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA). Sskrining dengan metode IVA banyak digunakan karena biayanya relatif murah, namun tingkat akurasinya cukup tinggi.

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan Indonesia. Jenis kanker ini banyak menewaskan penderitanya karena seringkali baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut sehingga sulit disembuhkan atau bahkan sudah menyebar.

Pemicu kanker serviks salah satunya Human Papilloma Virus (HPV) terutama tipe 16 dan 18. Ada 2 jenis pencegahan yang harus dilakukan secara bersamaan untuk mengurangi risiko kanker serviks, yakni melalui vaksinasi serta deteksi dini yakni skrining pap smear atau IVA.


(up/ir