Senin, 03 Januari 2011

Australia: Gelang Power Balance Palsu

Your browser does not support iframes.



(dok: powerbalance.com)Jakarta, Gelang Power Balance yang dikenakan oleh para selebriti dan bintang olahraga yang diklaim bisa meningkatkan kinerja atletik dinyatakan palsu oleh Badan Pengawas Konsumen Australia (ACCC).

Penggunaan gelang Power Balance mulai marak dikenakan oleh masyarakat setelah sejumlah olahragawan dan juga selebriti menggunakannya. Masyarakat umumnya langsung mempercayai manfaat dari gelang tersebut.

Australian Competition and Consumer Commission (ACCC) telah memerintahkan Power Balance Australia untuk menarik seluruh gelang yang sudah terjual di konsumen karena telah disesatkan manfaatnya.

Gelang Power Balance ini disebut-sebut bisa memberikan keseimbangan, kekuatan dan fleksibilitas yang lebih baik bagi penggunanya dengan menggunakan medan energi alami yang berasal dari tubuh si pemakai.

"Power Balance telah mengakui bahwa tidak ada dasar ilmiah yang kredibel untuk menguatkan klaim manfaat tersebut, karenanya tidak ada alasan yang layak untuk mendukung pernyataan manfaat gelang power balance ini," ujar ketua ACCC, Graeme Samuel, seperti dikutip dari SMH.com.au, Selasa (4/1/2011).

Samuel menuturkan ketika suatu produk sangat dipromosikan, dijual ditoko olahraga besar serta digunakan oleh para selebriti dan atlet, maka konsumen cenderung memberikan legitimasi tertentu terhadap produk tersebut.

Ia menuturkan bahwa produk tersebut termasuk dalam bentuk penipuan dan memperingatkan para pengecer yang terus menjual produk dengan iklan menyesatkan ini bisa dikenakan tindakan oleh ACCC.

Pada November 2010 panel kajian independen yang berhubungan dengan keluhan tentang pelanggaran kode iklan barang terapi menemukan adanya pelanggaran dalam website www.powerbalance.com.au, pihak Power Balance telang mengakui hal tersebut dan menghapusnya dari website.

Selain itu pada Oktober 2010 kelompok advokasi konsumen Choice juga menemukan gelang-gelang karet yang hanya diberikan hologram plastik. Setelah dilakukan uji laboratorium kontrol oleh CHOICE ditemukan bahwa konsumen hanya seperti membeli dompet kosong. Bunyi Iklan minta maaf Gelang Power Balance di media Australia pada 23 Desember 2010:     Dalam iklan-iklan kami menyatakan bahwa gelang Power Balance bisa meningkatkan kekuatan, keseimbangan dan fleksibilitas Anda.

Kami mengakui bahwa tidak ada bukti ilmiah yang kredibel yang mendukung klaim kami dan oleh karenanya kami terlibat dalam perbuatan yang menyesatkan dan melanggar pasal s52 dari Undang-Undang Praktik Perdagangan (Trade Practices Act) 1974.

Jika Anda merasa telah disesatkan oleh promosi ini kami meminta maaf tanpa syarat dan menawarkan pengembalian dana penuh.

Untuk mendapatkan pengembalian dana silakan kunjungi situs kami di www.powerbalance.com.au atau hubungi di nomor bebas pulsa 1800 733 436

Penawaran ini akan berlangsung sampai 30 Juni 2011. Agar syarat-syarat pengembalian dana terpenuhi bersama dengan ongkos kirimnya, Anda perlu mengembalikan produk asli Power Balance bersama dengan bukti pembelian (termasuk catatan kartu kredit, barcode dan penerimaan) dari penjual resmi di Australia.

Pemberitahuan koreksi ini telah dibayar oleh Power Balance Australia Pty Ltd sesuai janji kepada Australian Competition and Consumer Commission berdasarkan ayat 87B Trade Practices Act, 1974.


Sebelumnya, ilmuwan Greg Whyte dari Liverpool John Moores University mengatakan aktivitas fisik dengan sendirinya akan meningkatkan penyerapan okksigen sehingga stamina meningkat. Kalaupun gelang berbahan silikon tersebut bisa lebih mendongkrak stamina, hal itu hanyalah efek plasebo
(ver/ir

13 Risiko Serius dari Penggunaan Ponsel yang Terus Menerus

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Tidak bisa dipungkiri bahwa telepon seluler (ponsel) telah banyak menghadirkan berbagai kemudahan dalam hidup manusia. Meski banyak diperdebatkan, banyak kalangan khawatir akan dampak negatif dari radiasi yang ditimbulkan.

Penelitian terbesar yang pernah dilakukan tentang bahaya ponsel telah membantah adanya risiko kanker otak pada penggguna ponsel. Penelitian yang dilakukan sendiri oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) tersebut menunjukkan risikonya tidak terlalu besar untuk dikhawatirkan.

Namun penelitian terbaru di India kembali menegaskan adanya ancaman kanker terutama pada anak dan remaja. Sang peneliti, Prof Girish Kumar bahkan mengatakan bahaya radiasi juga terdapat di sekitar menara Base Transceiver Station (BTS).

"Satu BTS bisa memancarkan daya 50-100W. Negara yang punya banyak operator seluler seperti India bisa terpapar daya hingga 200-400W. Radiasinya tak bisa dianggap remeh, bisa sangat mematikan," ungkap Prof Kumar.

Dikutip dari DNAindia, Selasa (4/1/2010), berikut ini sejumlah dampak negatif yang bisa ditimbulkan akibat radiasi yang berlebihan dari ponsel dan menara BTS:


  1. Risiko kanker otak pada anak-anak dan remaja meningkat 400 persen akibat penggunaan ponsel. Makin muda usia pengguna, makin besar dampak yang ditimbulkan oleh radiasi ponsel.
  2. Bukan hanya pada anak dan remaja, pada orang dewasa radiasi ponsel juga berbahaya. Penggunaan ponsel 30 menit/hari selama 10 tahun dapat meningkatkan risiko kanker otak dan acoustic neuroma (sejenis tumor otak yang bisa menyebabkan tuli).
  3. Radiasi ponsel juga berbahaya bagi kesuburan pria. Menurut penelitian, penggunaan ponsel yang berlebihan bisa menurunkan jumlah sperma hingga 30 persen.
  4. Frekuensi radio pada ponsel bisa menyebabkan perubahan pada DNA manusia dan membentuk radikal bebas di dalam tubuh. Radikal bebas merupakan karsinogen atau senyawa yang dapat memicu kanker.
  5. Frekuensi radio pada ponsel juga mempengaruhi kinerja alat-alat penunjang kehidupan (live saving gadget) seperti alat pacu jantung. Akibatnya bisa meningkatkan risiko kematian mendadak.
  6. Sebuah penelitian membuktikan produksi homon stres kortisol meningkat pada penggunaan ponsel dalam durasi yang panjang. Peningkatan kadar stres merupakan salah satu bentuk respons penolakan tubuh terhadap hal-hal yang membahayakan kesehatan.
  7. Medan elektromagnet di sekitar menara BTS dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya tubuh lebih sering mengalami reaksi alergi seperti ruam dan gatal-gatal.
  8. Penggunaan ponsel lebih dari 30 menit/hari selama 4 tahun bisa memicu hilang pendengaran (tuli). Radiasi ponsel yang terus menerus bisa memicu tinnitus (telinga berdenging) dan kerusakan sel rambut yang merupakan sensor audio pada organ pendengaran.
  9. Akibat pemakaian ponsel yang berlebihan, frekuensi radio yang digunakan (900 MHz, 1800 MHz and 2450 MHz) dapat meningkatkan temperatur di lapisan mata sehingga memicu kerusakan kornea.
  10. Emisi dan radiasi ponsel bisa menurunkan kekebalan tubuh karena mengurangi produksi melatonin. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempengaruhi kesehatan tulang dan persendian serta memicu rematik.
  11. Risiko kanker di kelenjar air ludah meningkat akibat penggunaan ponsel secara berlebihan.
  12. Medan magnetik di sekitar ponsel yang menyala bisa memicu kerusakan sistem syaraf yang berdampak pada gangguan tidur. Dalam jangka panjang kerusakan itu dapat mempercepat kepikunan.
  13. Medan elektromagnetik di sekitar BTS juga berdampak pada lingkungan hidup. Burung dan lebah menjadi sering mengalami disorientasi atau kehilangan arah sehingga mudah stres karena tidak bisa menemukan arah pulang menuju ke sarang.
(up/ir

Pria Berbulu Dada Lebat Belum Tentu 'Jantan'

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Finlandia, Selama ini bulu dada yang lebat dipandang sebagai lambang maskulinitas dan kejantanan pada pria. Tapi menurut penelitian, pria berbulu dada lebat tandanya memiliki lebih banyak hormon seks wanita yang mempengaruhi kesuburan.

Dilansir Dailymail, Senin (3/1/2011), berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Behavioural Ecology edisi Februari 2010, pria dengan bulu dada lebat lebih banyak memiliki hormon seks wanita atau hormon estrogen.

Hal ini tentunya dapat mempengaruhi kejantanan pria, terutama yang berkaitan dengan kemampuan reproduksinya. Makin banyak hormon estrogen maka kemampuan reproduksinya bisa terganggu, karena harusnya pria lebih banyak punya hormon testosteron.

Tingginya hormon estrogen memang membuat pria lebih ramah dan dapat diandalkan bagi wanita. Tetapi secara teori, tingginya hormon estrogen pada pria dapat mempengaruhi tingkat kesuburan dan mengurangi kesempatan untuk membuat wanita hamil.

Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Turku University di Finlandia juga menemukan bahwa pria berbulu dada lebat kurang diminati oleh wanita muda.

Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan 20 foto pria sebelum dan sesudah pria tersebut mencukur bulu dadanya. Foto-foto tersebut kemudian ditampilkan pada 550 wanita usia 15 hingga 69 tahun.

Hasilnya, hanya 30 persen wanita muda yang menyukai pria berbulu dada, dibandingkan dengan 60 persen wanita yang lebih tua. Pria berbulu dada lebat ternyata lebih banyak disukai oleh wanita pasca-menopause, yaitu yang tidak mempersoalkan masalah kesuburan.

"Temuan ini menunjukkan bahwa rambut di tubuh bisa memainkan peran yang jauh lebih penting dalam memilih pasangan daripada yang diperkirakan sebelumnya," tulis peneliti dalam jurnal.



(mer/ir

Ekstasi Bisa Berguna untuk Terapi Autisme

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)New York City, Ekstasi merupakan salah satu dari obat terlarang yang banyak digunakan di Indonesia, selain kokain, ganja dan heroin. Tapi penelitian baru menemukan bahwa ekstasi bisa berguna untuk dijadikan terapi autisme.

Ekstasi atau dikenal juga sebagai MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) telah dikenal dapat meningkatkan perasaan bahagia, euforia, rasa keintiman dengan orang lain, serta meredakan depresi dan kegelisahan, meski obat ini juga sangat berbahaya bila disalahgunakan.

"Efek empathogenic ini menunjukkan bahwa MDMA bisa berguna untuk meningkatkan psikoterapi bagi pasien yang mengalami masalah komunikasi, seperti autisme, skizofrenia atau gangguan kepribadian antisosial lain," jelas Gillinder Bedi, asisten profesor psikologi klinis di Columbia University dan peneliti di New York State Psychiatric Institute, New York City, seperti dilansir Medindia, Senin (3/1/2011).

Menurut Bedi, ekstasi dapat mempengaruhi neuron di otak yang menggunakan serotonin neurotransmitter untuk berkomunikasi dengan neuron lainnya.

Serotonin kimia otak yang disebut hormon oksitosin memainkan peranan penting dalam mengatur suasana hati, agresi, tidur dan kepekaan terhadap rasa sakit, juga terkait dengan ikatan sosial dan salah satu hormon yang dapat mengurangi efek dari kortisol (hormon pemicu stres).

"Dalam konteks pengobatan, efek ini bisa meningkatkan keakraban pada orang-orang yang mengalami kesulitan merasa dekat dengan orang lain," kata John Krystal, editor Biological Psychiatry.

Sayangnya, ekstasi sering digunakan kalangan 'club drug' saat menikmati hiburan malam hari. Obat ini sering disalahgunakan dengan cara dikombinasikan dengan alkohol, sehingga memiliki efek yang dapat berpotensi mengancam nyawa.

"Meski demikian diperlukan lebih banyak penelitian mengenai pengontrolan ekstasi untuk menentukan apakah obat ini bisa dengan aman dan efektif menjadi obat psikoterapi untuk beberapa kondisi," ungkap Bedi.

Temuan sebelumnya yang telah dipublikasikan dalam Journal of Psychopharmacology juga menunjukkan bahwa ekstasi dapat berguna bagi orang dengan gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder atau PTSD), misalnya trauma pelecehan seksual.

Dr. Michael Mithoefer yang melakukan studi ekstasi dan PTSD sebelumnya menuturkan sangat penting untuk menyelidiki terapi baru yang potensial. Dan hal ini tidak boleh dicegah hanya karena ada sesuatu yang disalahgunakan.

"Banyak hal yang bisa mengancam jiwa atau berbahaya jika digunakan secara tidak benar. Tapi jika digunakan dengan bijaksana dan benar, maka ada banyak hal yang juga bisa membantu," ungkap Dr Mithoefer.

(mer/ir

Jalan Kaki 30 Menit Sehari Kurangi Risiko Kanker

Your browser does not support iframes.



foto: ThinkstockWashington, Olahraga apapun termasuk jalan kaki bagus untuk menjaga kebugaran tubuh, terutama jantung dan pernapasan. Manfaatnya kini tambah banyak, sebab penelitian membuktikan jalan kaki dapat mengurangi risiko kematian akibat kanker usus.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Kathleen Wolin, seorang ilmuwan dari Washington University Amerika Serikat. Data yang digunakan dalam penelitian tersebut dikumpulkan dari 150.000 orang dalam rentang waktu antara tahun 1982-2005.

Analisis data menunjukkan, responden yang rutin berjalan kaki punya risiko lebih rendah untuk mengalami kanker kolon (usus besar). Risikonya paling rendah jika kebiasaan tersebut dilakukan secara rutin paling tidak selama 10 tahun.

Tidak perlu jauh-jauh berjalan kaki karena penelitian itu membuktikan efeknya terhadap risiko kanker tidak dipengaruhi jarak, melainkan lebih pada durasinya. Kathleen menganjurkan, seseorang cukup berjalan kaki minimal 30 menit sehari untuk mendapatkan efek yang diharapkan.

"Tidak ada kata terlambat, bahkan yang baru saja didiagnosis kanker bisa mulai melakukannya untuk mendapatkan manfaat yang sama," ungkap Kathleen seperti diberitakan Daily Express, Senin (3/1/2010).

Selain untuk mengurangi risiko kanker, berjalan kaki secara rutin diketahui banyak memberikan manfaat bagi kesehatan. Penelitian di University of Pittsburgh membuktikan jalan kaki 10 km/pekan dapat menunda kepikunan (dementia) hingga 5 tahun lebih lama dibanding yang tidak pernah jalan kaki.

Jalan kaki juga baik untuk mengurangi risiko terkena diabetes tipe-2, yang dipicu oleh gaya hidup dan proses penuaan. Sebuah studi di Amerika membuktikan, 30 menit jalan kaki tiap hari dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan kemampuan tubuh mengatur glukosa darah.
(up/ir

Penis Adalah Barometer Kesehatan Pria

Your browser does not support iframes.



foto: ThinkstockNew York, Untuk sekedar tahu gambaran kondisi umum tentang kesehatannya, seorang pria tidak butuh termometer dan stetoskop. Cukup lihat kemampuan ereksi pada penisnya, sebab pada pria kemampuan tersebut sudah mewakili kondisi kesehatan secara umum.

Untuk dapat ereksi dengan sempurna, penis membutuhkan elastisitas pembuluh darah dan ritme jantung yang stabil untuk memompa darah ke bagian tersebut. Pengerasan arteri dan penyumbatan oleh plak dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah merupakan risiko berbagai gangguan jantung dan pembuluh darah. Karena itu, gangguan ereksi pada pria patut diwaspadai sebagai tanda-tanda adanya faktor risiko tersebut.

Sebuah penelitian di University of Bristol, Inggris pernah mengungkap bahwa pria yang lebih aktif secara seksual punya risiko lebih kecil untuk mengalami serangan jantung. Dengan tiga kali orgasme tiap pekan maka risiko serangan jantung berkurang 50 persen dibandingkan yang lebih jarang berhubungan seks.

Penelitian lain juga dilakukan di University of Brussel, Belgia terhadap pria berusia 50-55 tahun. Pria yang hanya bercinta sekali dalam sebulan punya risiko serangan jantung 70 persen lebih tinggi dibandingkan yang lebih sering. Setelah keluar dari rumah sakit, makin sering berhubungan seks makin cepat masa pemulihannya.

"Disfungsi ereksi sering muncul sebelum serangan jantung terjadi. Seperti burung kenari di tambang batubara, ereksi bisa memberi tanda akan datangnya bahaya besar bagi pria," ungkap pakar kesehatan dari Foxnews Health, Dr David Samadi seperti dikutip dari Foxnews, Senin (3/1/2011).

Hubungannya juga berlaku sebaliknya, untuk dapat berhubungan seks secara teratur pria butuh kebugaran fisik dan mental. Hanya pria sehat yang mampu mempertahankan ereksi dan melakukan hubungan seks seaktif mungkin dengan pasangannya.

Selain itu, ereksi juga butuh koordinasi saraf yang solid dan pelepasan senyawa nitrogen oksida yang berkelanjutan. Kekurangan hormon testosteron dan kelebihan berat badan seringkali menghambat mekanisme tersebut.

Kelebihan berat badan dan ketidakseimbangan hormon menandakan adanya risiko gangguan sistem metabolisme. Dan seperti telah diketahui, salah satu komplikasi diabetes yang paling ditakuti pria adalah disfungsi ereksi.

(up/ir

Minggu, 02 Januari 2011

Rasa Sakit yang Makin Terasa Saat Dibawa Istirahat

Your browser does not support iframes.



(Foto: thinkstock)Jakarta, Ketika merasa sakit, dokter biasanya menyuruh pasien untuk memperbanyak istirahat. Tapi untuk kondisi tertentu, istirahat justru dapat membuat rasa sakit pasien makin terasa.

Kondisi ini dinamakan Rest Pain, yaitu rasa sakit yang terjadi atau makin parah saat tubuh beristirahat. Salah satu faktor risiko yang menyebabkannya adalah klaudikasio (aterosklerosis di bagian tubuh bawah).

Dilansir Surgery.usc.edu, Senin (3/1/2011), klaudikasio adalah penyumbatan pembuluh darah di kaki sehingga menyebabkan ketidaknyamanan, kram atau sakit pada pinggul, kaki atau paha betis.

Pada kondisi yang belum parah, klaudikasio biasanya terjadi pada saat melakukan aktivitas fisik seperti berjalan, kemudian akan sembuh dengan istirahat singkat (2-5 menit).

Namun pada saat kondisi berlanjut atau makin parah, rasa sakit dapat terjadi atau makin parah saat tubuh sedang beristirahat, seperti duduk, berbaring atau saat akan berdiri.

Pada keadaan normal, aliran darah bisa meningkat hingga sepuluh kali untuk memenuhi peningkatan kebutuhan oksigen ekstra pada otot yang terlatih. Namun, ketika arteri kaki tersumbat, aliran darah tidak dapat meningkat sebagai respon terhadap latihan, sehingga rasa sakit berkembang.

Bila rasa sakit masih terasa saat melakukan istirahat, artinya arteri kaki sudah tidak bisa lagi memberikan aliran darah yang cukup ke kaki. Rasa sakit ini biasanya akan makin parah ketika kaki dibaringkan di tempat tidur di malam hari.

Faktor risiko Rest Pain sama dengan faktor risiko yang menyebabkan penyakit arteri koroner atau penyakit jantung, yaitu:
  1. Merokok
  2. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  3. Kadar kolesterol darah tinggi atau trigliserida (hiperkolesterolemia, hiperlipidemia)
  4. Kurang olahraga atau aktivitas fisik
  5. Kegemukan
  6. Diabetes
  7. Riwayat keluarga penyakit jantung atau penyakit arteri

Merokok adalah yang paling berpengaruh dari semua faktor risiko. Meskipun mekanisme merokok menyebabkan atau memperburuk klaudikasio tidak jelas, diketahui bahwa tingkat kerusakan pada lapisan dinding arteri secara langsung berkaitan dengan jumlah tembakau yang digunakan. Berhenti merokok sangat penting dalam perang melawan progresi klaudikasio.

Gejala dari klaudikasio antara lain:
  1. Penurunan pertumbuhan rambut pada kaki
  2. Perubahan warna kaki menjadi pucat atau kebiruan
  3. berkurangnya denyut nadi di kaki
  4. Perbedaan suhu di kaki, menjadi sangat dingin.
  5. Perubahan sensasi (mati rasa, kesemutan, kram, sakit)
  6. Luka pada kaki menjadi susah sembuh
  7. Menyusutnya otot betis
  8. Kuku kaki menebal

(mer/ir